NATHANIA CLAIRINE
14140110369
A. Pengertian Etika
Secara etimologi, "etika" berasal dari kata bahasa Yunani ethos. Dalam istilah filsafat, etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Etika dibagi ke dalam 3 pengertian pokok, yaitu ilmu tentang apa yang baik dan kewajiban moral, kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, dan nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
B.Hubungan Filsafat dan Etika
Filsafat ialah seperangkat keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap, cita-cita, aspirasi-aspirasi, dan tujuan-tujuan, nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan, dan prinsip etis. Filsafat juga merupakan pencari kebenaran, suatu persoalan nilai-nilai dan pertimbangan-pertimbangan nilai untuk melaksanakan hubungan-hubungan kemanusiaan secara benar dan juga berbagai pengetahuan tentang apa yang buruk atau baik untuk memutuskan bagaimana seseorang harus memilih atau bertindak dalam kehidupan.
C. Perbedaan Etika, Etiket, Moral, dan Agama
1. Perbedaan etika dan etiket
-Etika menyangkut cara perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu. Etiket memberikan dan menunjukkan cara yang tepat dalam bertindak. Sementara itu, etika memberikan norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut apakah suatu perbuatan bisa dilakukan antara ya dan tidak.
-Etiket hanya berlaku dalam pergaulan osial. Sementara etika tidak memerhatikan orang lain atau tidak
-Etiket bersifat relatif. Etika jauh bersifat mutlak.
-Etiket hanya menyangkut segi lahiriah saja. Sementara etika lebih menyangkut aspek internal manusia.
2. Perbedaan Etika dan Estetika
-Etika fokus pada baik-buruk tingkah laku dan tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban tanggung jawab manusiawi.
-Etika berkaitan dengan apa yang menjadi dasar bahwa tindakan manusia adalah baik atau buruk, benar atau salah
-Etika terapan menjadi fokus perhatian, misalnya kita mengenal etika profesi, kode etik, rambu-rambu etis, etika politik, etika lingkungan, bioetika dan lainnya.
Sedangkan estetika memiliki karakter sbb :
-mempermasalahkan seni atau keindahan yang diproduksi oleh manusia
-estetika deksriptif dan etika estetika normatif
-estetika berkaitan dengan imitasi atau reproduksi realitas. Seni sebagai ekspresi sosial atau ekspresi sosial atau ekspresi personal atas suatu realitas.
3. Perbedaan moral dan hukum
-hukum bersifat objektif karena hukum dituliskan dan disusun dalam kitab undang-undang.
-norma bersifat subjektif dan akibatnya sering kali diganggu oleh pertanyaan atau diskusi yang menginginkan kejelasan tentang etis dan tidaknya
-hukum hanya membatasi ruang lingkupnya pada tingkah laku lahiriah manusia saja
-sedangkan moralitas menyangkut perilaku batin seseorang
-sanksi hukum bisanya dapat dipaksakan
-sedangkan sanksi moral satu-satunya adalah pada kenyataan bahwa hati nuraninya akan merasa tidak tenang
-sanksi hukum pada dasarnya didasarkan pada kehendak masyarakat
-sedangkan moralitas tidak akan dapat diubah oleh masyarakat
4. Perbedaan etika dan agama
Etika mendukung keberadaan agama, di mana etika sanggup membantu manusia dalam menggunakan akal pikiran untuk memecahkan masalah. Dalam agama ada etika dan sebaliknya agama merupakan salah satu norma dalam etika. Perbedaan antara etika dan ajaran moral agama yakni etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional.
5. Perbedaan etika dan moral
Etika lebih condong ke arah ilmu tentang baik atau buruk. Selain itu, etika lebih sering dikenal sebagai kode etik. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan atau nilai yang berkenaan denngan baik buruk.
D. Unsur Pokok Dalam Etika
Kebebasan adalah unsur pokok dan utama dalam wacana etika. Etika menjadi bersifat rasional karena etika selalu mengandaikan kebebasan. Selain itu, ada tanggung jawab yang merupakan kemampuan individu untuk menjawab segala pertanyaan yang mungkin timbul dari tindakan-tindakan.
E.Beberapa Isme Dalam Etika
1. Egoisme
2. Deontologisme
3. Utilitarianisme
4. Pragmatisme
F. Etika Komunikasi
Etika komunikasi mencoba untuk mengolaborasi standar etis yang idgunakan oleh komunikator dan komunikan. Setidaknya ada 7 perspektif etika komunikasi yang bisa dilihat dalam perspektif yang bersangkutan.
1. Perspektif politik
2. Perspektif sifat manusia
3. Perspektif dialogis
4. Perspektif situasional
5. Perspektif religius
6. Perspektif utilitarian
7. Perspektif legal
Tampilkan postingan dengan label Nathania Clairine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nathania Clairine. Tampilkan semua postingan
Senin, 11 April 2016
KOMUNIKASI SEBAGAI PROSES SIMBOLIS
A. Pengertian Simbolis Interaksionisme
Teori simbolis interaksionisme dikembangkan oleh kelompok The Chicago School dengan tokoh-tokohnya seperti George Herbert Mead dan George Herbert Blumer. Blumer meyakini bahwa studi manusia tidak bisa diselenggarakan di dalam cara yang sama dari ketika studi tentang benda mati. Ia menekankan pentingnya pengamatan peserta di dalam komunikasi.Teori ini berpijak pada premis bahwa:
-manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang ada pada "Sesuatu" itu bagi mereka
-makna tersebut berasal atau muncul dari "interaksi sosial seseorang dengan orang lain"
-makna tersebut disempurnakan melalui proses penafsiran pada saat "proses interaksi sosial" berlangsung
Pemberian makna tidak didasarkan pada makna normatif, yang telah dibakukan sebelumnya, tetapi hasil dari proses oleh mental yang terus-menerus disempurnakan seiring dengan fungsi instrumentaknya, yaitu sebagai pengarahan dan pembentukkan tindakan dan sikapaktor atas sesuatu tersebut.
B. Komunikasi Sebagai Proses Interaksi Simbolis
Joel M.Charon dalam bukunya "Symbolic Interactionism" mendefiniskan interaksi sebagai "aksi sosial bersama: individu-individu berkomunikasi satu sama lain mengenai apa yang mereka lakukan dengan mengorientasikan kegiatannya kepada dirinya masing-masing.
C. Istilah Pokok Teori Simbolis Interaksionisme
1. Identities, yakni pemaknaan diri dalam suatu pengambilan peran.
2. Language, yakni suatu sistem simbol yang digunakan bersama diantara anggota kelompok sosial.
3. Looking glass-self, yakni gambaran mental sebagai hasil dari mengambil peran orang lain
4. Meaning, yakni tujuan dan atribut bagi sesuatu
5. Mind, yakni proses mental yang terdiri dari self, interaksi, dan refleksi, berdasarkan simbol sosial yang didapat.
6. Role taking, yakni kemampuan untuk melihat diri seseorang sebagai objek, sehingga diperoleh gambaran bagaimana dia lain melihat orang lain tersebut.
7. Self-concept, yakni gambaran yang kita punya tentang siapa dan bagaimana diri kita yang dibentuk sejak kecil melalui interaksi dengan orang lain.
8. Self-fulfilling prophecy, yakni tendensi bagi ekspetasi untuk memunculkan respon bagi orang lain yang diantisipasi oleh kita.
D. Pemikiran George Herbert Mead
Ia mengatakan bahwa pikiran manusia mengartikan dan menafsirkan benda-benda dan peristiwa yang dialaminya, menerangkan asal muasalnya dan menerangkannya. Pikiran manusia menerobos dunia luar, seolah-olah mengenalnya dari balik penampilannya.
1.Konsep Mead tentang MIND
Ia mendefinisikannya sebagai fenomena yang tumbuh dan berkembang dalam proses sosial sebagai hasil dari interaksi. Mind dalam hal ini mirip dengan simbol, yakni sebagai hasil dari interaksi sosial.
2. Konsep Mead tentang SELF
Sebuah proses yang tumbuh dalam keseharian sosial yang membentuk identitas diri.
3. Konsep Mead tentang SOCIETY
Merupakan kumpulan self yang melakukan interaksi dalam lingkungan yang lebih luas yang berupa hubungan personal, kelompok intim, dan komunitas.
E. Pemikiran George Herbert Blumer
Dasar pemikiran teori interaksionisme simbolis:
-Manusia berperilaku terhadap hal-hal berdasarkan makna yang dimiliki hal-hal tersebut baginya
-Makna hal-hal tersebut berasal dari atau muncul dari interaksi sosial yang pernah dilakukan dengan orang lain
-Makna-makna itu dikelola dalam dan diubah melalui proses penafsiran yang dipergunakan oleh orang yang berikatan dengan hal-hal yang dijumpai.
1.Konsep Blumer tentang MEANING, LANGUAGE, SOCIETY
-Meaning, merupakan dasar bagi kita untuk bertindak terhadap segala sesuatu
-Language, makna yang tumbuh dalam interaksi sosial menggunakan bahasa
-Thought, merupakan interpretasi individu atas simbol yang dimodifikasi melalui proses berpikir seseorang.
2. Konsep Pokok Blumer tentang Teori Simbolis Interaksionisme
-Konsep diri
-Konsep kegiatan
-Konsep Objek
-Konsep Interaksi Sosial
-Konsep aksi bersama
Nathania Clairine
14140110369
Teori simbolis interaksionisme dikembangkan oleh kelompok The Chicago School dengan tokoh-tokohnya seperti George Herbert Mead dan George Herbert Blumer. Blumer meyakini bahwa studi manusia tidak bisa diselenggarakan di dalam cara yang sama dari ketika studi tentang benda mati. Ia menekankan pentingnya pengamatan peserta di dalam komunikasi.Teori ini berpijak pada premis bahwa:
-manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang ada pada "Sesuatu" itu bagi mereka
-makna tersebut berasal atau muncul dari "interaksi sosial seseorang dengan orang lain"
-makna tersebut disempurnakan melalui proses penafsiran pada saat "proses interaksi sosial" berlangsung
Pemberian makna tidak didasarkan pada makna normatif, yang telah dibakukan sebelumnya, tetapi hasil dari proses oleh mental yang terus-menerus disempurnakan seiring dengan fungsi instrumentaknya, yaitu sebagai pengarahan dan pembentukkan tindakan dan sikapaktor atas sesuatu tersebut.
B. Komunikasi Sebagai Proses Interaksi Simbolis
Joel M.Charon dalam bukunya "Symbolic Interactionism" mendefiniskan interaksi sebagai "aksi sosial bersama: individu-individu berkomunikasi satu sama lain mengenai apa yang mereka lakukan dengan mengorientasikan kegiatannya kepada dirinya masing-masing.
C. Istilah Pokok Teori Simbolis Interaksionisme
1. Identities, yakni pemaknaan diri dalam suatu pengambilan peran.
2. Language, yakni suatu sistem simbol yang digunakan bersama diantara anggota kelompok sosial.
3. Looking glass-self, yakni gambaran mental sebagai hasil dari mengambil peran orang lain
4. Meaning, yakni tujuan dan atribut bagi sesuatu
5. Mind, yakni proses mental yang terdiri dari self, interaksi, dan refleksi, berdasarkan simbol sosial yang didapat.
6. Role taking, yakni kemampuan untuk melihat diri seseorang sebagai objek, sehingga diperoleh gambaran bagaimana dia lain melihat orang lain tersebut.
7. Self-concept, yakni gambaran yang kita punya tentang siapa dan bagaimana diri kita yang dibentuk sejak kecil melalui interaksi dengan orang lain.
8. Self-fulfilling prophecy, yakni tendensi bagi ekspetasi untuk memunculkan respon bagi orang lain yang diantisipasi oleh kita.
D. Pemikiran George Herbert Mead
Ia mengatakan bahwa pikiran manusia mengartikan dan menafsirkan benda-benda dan peristiwa yang dialaminya, menerangkan asal muasalnya dan menerangkannya. Pikiran manusia menerobos dunia luar, seolah-olah mengenalnya dari balik penampilannya.
1.Konsep Mead tentang MIND
Ia mendefinisikannya sebagai fenomena yang tumbuh dan berkembang dalam proses sosial sebagai hasil dari interaksi. Mind dalam hal ini mirip dengan simbol, yakni sebagai hasil dari interaksi sosial.
2. Konsep Mead tentang SELF
Sebuah proses yang tumbuh dalam keseharian sosial yang membentuk identitas diri.
3. Konsep Mead tentang SOCIETY
Merupakan kumpulan self yang melakukan interaksi dalam lingkungan yang lebih luas yang berupa hubungan personal, kelompok intim, dan komunitas.
E. Pemikiran George Herbert Blumer
Dasar pemikiran teori interaksionisme simbolis:
-Manusia berperilaku terhadap hal-hal berdasarkan makna yang dimiliki hal-hal tersebut baginya
-Makna hal-hal tersebut berasal dari atau muncul dari interaksi sosial yang pernah dilakukan dengan orang lain
-Makna-makna itu dikelola dalam dan diubah melalui proses penafsiran yang dipergunakan oleh orang yang berikatan dengan hal-hal yang dijumpai.
1.Konsep Blumer tentang MEANING, LANGUAGE, SOCIETY
-Meaning, merupakan dasar bagi kita untuk bertindak terhadap segala sesuatu
-Language, makna yang tumbuh dalam interaksi sosial menggunakan bahasa
-Thought, merupakan interpretasi individu atas simbol yang dimodifikasi melalui proses berpikir seseorang.
2. Konsep Pokok Blumer tentang Teori Simbolis Interaksionisme
-Konsep diri
-Konsep kegiatan
-Konsep Objek
-Konsep Interaksi Sosial
-Konsep aksi bersama
Nathania Clairine
14140110369
TEMA POKOK DALAM ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI
A. Manusia Sebagai Pelaku Komunikasi
Dapat dikatakan bahwa proses komunikasi merupakan proses kehidupan manusia. Komunikasi tidak dapat dipisahkan dari seluruh proses kehidupan konkret manusiawi. Hakikat komunikasi adalah proses ekspresi antarmanusia. Setiap manusia mempunyai kepentingan untuk menyampaikan pikiran atau perasaan yang dipunyai. Dalam setiap kehidupan, manusia memerlukan pemahaman yang lebih mendalam atas segala hal yang dilakukannya, termasuk di dalamnya proses komunikasi.
Proses komunikasi adalah aktivitas yang diperlukan untuk mengadakan dan melakukan tindakan komunikatif, baik yang dilakukan oleh komunikator, komunikan atau aktivitas penyampaian pesan, noise yang bisa saja terjadi dalam setiap tindakan komunikatif lainnya.
1. Definisi Manusia
Sudah menjadi kodrat bahwa manusia adalah makhluk yang berakal budi (homo rationale). Menurut Aristoteles (384-322 SM) sebagaimana dijelaskan Prof. Onong (2003), manusia punya 3 anima (jiwa), yakni :
-Anima avegatativa/roh vegetatif "tumbuh - tumbuhan" fungsinya makan, tumbuh, dan berkembang biak.
-Anima sensitiva "binatang punya perasaan, naluri, dan nafsu" mampu mengamati, bergerak, dan bertindak
-Anima intelektiva "roh intelek yang dimiliki manusia" berpikir dan berkehendak, serta memiliki kesadaran.
Dengan demikian, ciri manusia menurut Aristoteles adalah memiliki totalitas, yakni persatuan roh dan jasad. Anima adalah penyebab hidup, bukan penyebab kesadaran, sedangkan yang menyebabkan kesadaran adalah "Aku"/rohani.
Pemikiran Aristoteles tentang aliran manusia :
a. Materialisme : manusia ada pada fisiknya
b. Idealisme : keberadaan manusia adalah pada ide
c. Eksistensialisme : melihat manusia pada eksistensinya, sejauh mana keberadaannya diakui oleh masyarakat sekitarnya.
2. Kritik Eksistensialisme Terhadap Materialisme
Aliran eksistensialisme menentang aliran materialisme yang berpendapat bahwa manusia hanyalah benda saja. Yang ditentang kaum eksistensialisme ialah pendapat kaum materialisme tentang cara manusia berada di dunia. Menurut ajaran ekesistensialisme, manusia bukan saja berada di dunia, tetapi juga menghadapi dunia dan menghadapi benda lain di dunia.
Menurut kaum eksistensialis, kesalahan aliran materialisme terletak pada pandangan materialisme yang mendetotalisasi manusia, memungkiri totalitas manusia. Mengatakan bahwa manusia hanya materi, berarti memungkiri manusia sebagai keseluruhan.
Pandangan materialisme ini sudah menjadi klasik, artinya sudah mempunyai kedudukan yang kuat, tetapi salah. Salah, oleh karena memungkiri keenaran, bahwa manusia itu mengerti, berkehendak dengan bebas, mengerti, dan membina kebudayaan.
3. Kritik Eksistensialisme Terhadap Idealisme
Jika materialisme memandang manusia sebagai materi saja, sesuatu yang ada tanpa subjek, maka idealisme menganggap manusia adalah sesuatu yang berpikir, suatu pikiran saja. Dan pikiran ini merupakan suatu aspek, aspek mana yang dilupakan oleh materialisme, dan sebaliknya dilebih-lebihkan oleh idealisme. Suatu aspek yang dianggap sebagai keseluruhan manusia.
Menurut aliran eksistensialisme, kesalahan idealisme ialah bahwa idealisme memandang manusia hanya sebagai subjek, dan akhirnya sebagai kesadaran semata-mata. Idealisme lupa bahwa manusia hanya berdiri sebagai manusia karena bersatu dengan realitas sekitarnya.
Jadi, menurut paham eksistensialisme, manusia bukanlah hanya objek sebagaimana menjadi pandangan ajaran materialisme, tetapi juga bukan hanya subjek atau kesadaran, seperti menjadi anggapan kaum idealisme. Manusia adalah eksistensi.
4. Ethos, Pathos, dan Logos
Ketiga konsep ini memang awalnya dikembangkan dalam konteks komunikasi retorika atau public speaking. Namun demikian, ketiga konsep tersebut masih relevan dalam konteks komunikasi efektif terutama untuk menjadi komunikator yang andal.
- Ethos
Sumber kepercayaa yang ditunjukkan oleh seorang komunikator bahwa ia memang pakar dalam bidangnya, sehingga oleh karena ia seorang ahli, maka ia dapat dipercaa.
-Pathos
Tampilan emosi, komunikator harus pas memunculkan semangat dan gairah berkomunikasi.
-Logos
Argumentasi komunikasi harus masuk akal.
5. Komunikator Humanistis
Menurut Prof. Onong Uchyana Effendi, MA (2003:357) komunikator humanistik adalah diri seseorang yang unik dan otonom, dengan proses mental mencari informasi secara aktif, yang sadar akan dirinya dan keterlibatannya dengan masyarakat, emmiliki kebebasan memilih, dan bertanggung jawab terhadap perilaku yang diakibatkan.
Seorang komunikator humanistik memiliki 4 ciri, yakni
-Berpribadi
-Unik
-Aktif
-Sadar diri dan keterlibatan sosial
B. Teknologi Komunikasi
Perkembangan teknologi komunikasi lebih merupakan deret ukur yang memperlihatkan lompatan-lompatan, dengan dimulai dari satu, dua, lalu melompat menjadi empat, lalu melompat lagi menjadi enam belas, dan seterusnya. Maka tidak heran bila pada akhir-akhir ini, berbagai perkembangan yang terjadi memang cukup menakjubkan, khususnya dalam bidang teknologi terutama dalam hal informasi dan komunikasi. Dari yang awalnya single platform sekarang menjadi multiple platform.
1. Ambivalensi Teknologi Komunikasi
Dalam teori teknologi media dan masyarakat massa misalnya dikatakan bahwa teknologi media memiliki sejumlah asumsi untuk membentuk masyarakat. Teknologi media massa memiliki efek yang berbahaya sekaligus menular bagi masyarakat. Teknologi media massa memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pola pikir rata - rata audiensnya. Bahkan pada asumsi berikutnya dalam teori ini dikatakan bahwa ketika pola pikir seseorang sudah terpengaruh oleh media, maka semakin lama pengaruh tersebut semakin besar.
2. Apakah Teknologi Itu Netral?
Ada 2 jawaban atas pertanyaan tersebut, yakni Ya dan Tidak. Ya jika, kita melihat teknologi dengan segala prinsip kerjanya, dan tidak, jika kita melihat pada manusia di sekitar teknologi. Jika kita melihat teknologi sebagai hukum-hukum fisika dan ilmu pengetahuan yang direkayasa beriut perkembangannya sedemikian rupa, maka pada dasarnya kita melihat teknologi sebagai sebuah sistem yang tertutup. Stau dengan kata lain, kita melihat teknologi secara kebendaan. Maka, dengan demikian teknologi adalah netral.
Terkait masalah ambivalensi teknologi komunikasi, Marshal McLuhan pakar kounikasi dari Kanada menyebut dua kemungkinan pengaruh perkembangan teknologi komunikasi, yakni :
-Global Village
Yakni, teknologi komunikasi menciptakan manfaat positif dengan mengatasi hambatan jarak dan waktu, sehingga seolah olah dunia hanyalah sebuah desa.
-Global Pillage
Yakni, teknoogi menciptakan manfaat negatif, dengan cara menciptakan ketergantungan.
3. Aspek Teknologi
Teknologi memiliki 3 aspek yang saling terkait (Arnold Pacey) :
-Technical Aspect
-Cultural Aspect
-Organizational Aspect
4. Teknologi Komunikasi dan Masyarakat Informasi
Masyarakat informasi adalah suatu masyarakat di mana produksi, distribusi, dan konsumsi informasi menjadi aktivitas yang utama. Ada sejumlah faktor yang mendukung terjadinya masyarakat informasi :
-Konvergensi Teknologi
-Berkembangnya Internet
-Digitalisasi
-Konvergensi Media
-Merger Industri
5. Ekses Teknologi Komunikasi
Perkembangan teknologi seperti pisau bermata dua. Satu sisi membawa manfaat, tetapi sisi lain membawa bahaya. Ekses (pengaruh negatif) dari perkembangan teknologi antara lain :
-Perubahan gaya hidup, yakni perubahan apa yang dibutuhkan menjadi apa yang diinginkan, begitupula dengan sebaliknya.
-Tantangan karir --> harus menguasai teknologi dan up to date
-Perubahan regulasi
-Pergeseran kekuatan
6. Berbagai Paradigma Dalam Teknologi Komunikasi
a. Determinasi Teknologi
Ini berasumsi bahwa teknologi adalah kekuatan kunci dalam mengatur masyarakat. Parameter teknologi adalah efektivitas dan efesiensi untuk mencapai tujuan. Karenanya, teknologi merupakan simbol kemajuan peradaban manusia.
b. Fenomenologi Teknologi
Yaitu memahami teknologi dalam kaitannya dengan fenomena sosial yang melingkupi teknologi.
c. Otoriterianisme
Ini merupakan paradigma paling tua, ini menempatkan media sebagai alat propaganda pemerintah.
d. Liberalisme
Teknologi media tidak lagi menjadi alat pemerintah, tetapi bisa dimiliki secara pribadi
e. Tanggung jawab sosial
Ini merupakan perkembangan dari paradigma liberal, tetapi harus muncul sensibilitas besar terhadap dampak buruk teknologi liberal, yaitu kepemilikan media yang monopolistik dan dampak-dampaknya terhadap potensi manipulasi informasi oleh kekuatan modal.
7. Pemikiran Jaques Ellul tentang Teknologi Komunikasi
Ia mengatakan bahwa teknologi komunikasi merupakan kekuatan sosial baru yang menjadi kebutuhan manusia. Kita tidak bisa hidup tanpa teknologi, tapi pada saat yang sama kita juga harus menghadapi resiko dan konsekuensi yang dibawa oleh teknologi.
C. Komunikasi Efektif dan Strategi Komunikasi
The Conditions of Success in Communication (Wilbur Schramm) :
-Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan
-Pesan harus menggunakan lambang yang memiliki pengertian yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama mengerti
-Pesan harus dapat menumbuhkan kebutuhan pribadi komunikan sekaligus menyediakan alternatif mencapai kebutuhan tersebut
-Pesan harus berkaitan dengan kebutuhan kelompok dimana komunikan berada
Nathania Clairine
14140110369
Dapat dikatakan bahwa proses komunikasi merupakan proses kehidupan manusia. Komunikasi tidak dapat dipisahkan dari seluruh proses kehidupan konkret manusiawi. Hakikat komunikasi adalah proses ekspresi antarmanusia. Setiap manusia mempunyai kepentingan untuk menyampaikan pikiran atau perasaan yang dipunyai. Dalam setiap kehidupan, manusia memerlukan pemahaman yang lebih mendalam atas segala hal yang dilakukannya, termasuk di dalamnya proses komunikasi.
Proses komunikasi adalah aktivitas yang diperlukan untuk mengadakan dan melakukan tindakan komunikatif, baik yang dilakukan oleh komunikator, komunikan atau aktivitas penyampaian pesan, noise yang bisa saja terjadi dalam setiap tindakan komunikatif lainnya.
1. Definisi Manusia
Sudah menjadi kodrat bahwa manusia adalah makhluk yang berakal budi (homo rationale). Menurut Aristoteles (384-322 SM) sebagaimana dijelaskan Prof. Onong (2003), manusia punya 3 anima (jiwa), yakni :
-Anima avegatativa/roh vegetatif "tumbuh - tumbuhan" fungsinya makan, tumbuh, dan berkembang biak.
-Anima sensitiva "binatang punya perasaan, naluri, dan nafsu" mampu mengamati, bergerak, dan bertindak
-Anima intelektiva "roh intelek yang dimiliki manusia" berpikir dan berkehendak, serta memiliki kesadaran.
Dengan demikian, ciri manusia menurut Aristoteles adalah memiliki totalitas, yakni persatuan roh dan jasad. Anima adalah penyebab hidup, bukan penyebab kesadaran, sedangkan yang menyebabkan kesadaran adalah "Aku"/rohani.
Pemikiran Aristoteles tentang aliran manusia :
a. Materialisme : manusia ada pada fisiknya
b. Idealisme : keberadaan manusia adalah pada ide
c. Eksistensialisme : melihat manusia pada eksistensinya, sejauh mana keberadaannya diakui oleh masyarakat sekitarnya.
2. Kritik Eksistensialisme Terhadap Materialisme
Aliran eksistensialisme menentang aliran materialisme yang berpendapat bahwa manusia hanyalah benda saja. Yang ditentang kaum eksistensialisme ialah pendapat kaum materialisme tentang cara manusia berada di dunia. Menurut ajaran ekesistensialisme, manusia bukan saja berada di dunia, tetapi juga menghadapi dunia dan menghadapi benda lain di dunia.
Menurut kaum eksistensialis, kesalahan aliran materialisme terletak pada pandangan materialisme yang mendetotalisasi manusia, memungkiri totalitas manusia. Mengatakan bahwa manusia hanya materi, berarti memungkiri manusia sebagai keseluruhan.
Pandangan materialisme ini sudah menjadi klasik, artinya sudah mempunyai kedudukan yang kuat, tetapi salah. Salah, oleh karena memungkiri keenaran, bahwa manusia itu mengerti, berkehendak dengan bebas, mengerti, dan membina kebudayaan.
3. Kritik Eksistensialisme Terhadap Idealisme
Jika materialisme memandang manusia sebagai materi saja, sesuatu yang ada tanpa subjek, maka idealisme menganggap manusia adalah sesuatu yang berpikir, suatu pikiran saja. Dan pikiran ini merupakan suatu aspek, aspek mana yang dilupakan oleh materialisme, dan sebaliknya dilebih-lebihkan oleh idealisme. Suatu aspek yang dianggap sebagai keseluruhan manusia.
Menurut aliran eksistensialisme, kesalahan idealisme ialah bahwa idealisme memandang manusia hanya sebagai subjek, dan akhirnya sebagai kesadaran semata-mata. Idealisme lupa bahwa manusia hanya berdiri sebagai manusia karena bersatu dengan realitas sekitarnya.
Jadi, menurut paham eksistensialisme, manusia bukanlah hanya objek sebagaimana menjadi pandangan ajaran materialisme, tetapi juga bukan hanya subjek atau kesadaran, seperti menjadi anggapan kaum idealisme. Manusia adalah eksistensi.
4. Ethos, Pathos, dan Logos
Ketiga konsep ini memang awalnya dikembangkan dalam konteks komunikasi retorika atau public speaking. Namun demikian, ketiga konsep tersebut masih relevan dalam konteks komunikasi efektif terutama untuk menjadi komunikator yang andal.
- Ethos
Sumber kepercayaa yang ditunjukkan oleh seorang komunikator bahwa ia memang pakar dalam bidangnya, sehingga oleh karena ia seorang ahli, maka ia dapat dipercaa.
-Pathos
Tampilan emosi, komunikator harus pas memunculkan semangat dan gairah berkomunikasi.
-Logos
Argumentasi komunikasi harus masuk akal.
5. Komunikator Humanistis
Menurut Prof. Onong Uchyana Effendi, MA (2003:357) komunikator humanistik adalah diri seseorang yang unik dan otonom, dengan proses mental mencari informasi secara aktif, yang sadar akan dirinya dan keterlibatannya dengan masyarakat, emmiliki kebebasan memilih, dan bertanggung jawab terhadap perilaku yang diakibatkan.
Seorang komunikator humanistik memiliki 4 ciri, yakni
-Berpribadi
-Unik
-Aktif
-Sadar diri dan keterlibatan sosial
B. Teknologi Komunikasi
Perkembangan teknologi komunikasi lebih merupakan deret ukur yang memperlihatkan lompatan-lompatan, dengan dimulai dari satu, dua, lalu melompat menjadi empat, lalu melompat lagi menjadi enam belas, dan seterusnya. Maka tidak heran bila pada akhir-akhir ini, berbagai perkembangan yang terjadi memang cukup menakjubkan, khususnya dalam bidang teknologi terutama dalam hal informasi dan komunikasi. Dari yang awalnya single platform sekarang menjadi multiple platform.
1. Ambivalensi Teknologi Komunikasi
Dalam teori teknologi media dan masyarakat massa misalnya dikatakan bahwa teknologi media memiliki sejumlah asumsi untuk membentuk masyarakat. Teknologi media massa memiliki efek yang berbahaya sekaligus menular bagi masyarakat. Teknologi media massa memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pola pikir rata - rata audiensnya. Bahkan pada asumsi berikutnya dalam teori ini dikatakan bahwa ketika pola pikir seseorang sudah terpengaruh oleh media, maka semakin lama pengaruh tersebut semakin besar.
2. Apakah Teknologi Itu Netral?
Ada 2 jawaban atas pertanyaan tersebut, yakni Ya dan Tidak. Ya jika, kita melihat teknologi dengan segala prinsip kerjanya, dan tidak, jika kita melihat pada manusia di sekitar teknologi. Jika kita melihat teknologi sebagai hukum-hukum fisika dan ilmu pengetahuan yang direkayasa beriut perkembangannya sedemikian rupa, maka pada dasarnya kita melihat teknologi sebagai sebuah sistem yang tertutup. Stau dengan kata lain, kita melihat teknologi secara kebendaan. Maka, dengan demikian teknologi adalah netral.
Terkait masalah ambivalensi teknologi komunikasi, Marshal McLuhan pakar kounikasi dari Kanada menyebut dua kemungkinan pengaruh perkembangan teknologi komunikasi, yakni :
-Global Village
Yakni, teknologi komunikasi menciptakan manfaat positif dengan mengatasi hambatan jarak dan waktu, sehingga seolah olah dunia hanyalah sebuah desa.
-Global Pillage
Yakni, teknoogi menciptakan manfaat negatif, dengan cara menciptakan ketergantungan.
3. Aspek Teknologi
Teknologi memiliki 3 aspek yang saling terkait (Arnold Pacey) :
-Technical Aspect
-Cultural Aspect
-Organizational Aspect
4. Teknologi Komunikasi dan Masyarakat Informasi
Masyarakat informasi adalah suatu masyarakat di mana produksi, distribusi, dan konsumsi informasi menjadi aktivitas yang utama. Ada sejumlah faktor yang mendukung terjadinya masyarakat informasi :
-Konvergensi Teknologi
-Berkembangnya Internet
-Digitalisasi
-Konvergensi Media
-Merger Industri
5. Ekses Teknologi Komunikasi
Perkembangan teknologi seperti pisau bermata dua. Satu sisi membawa manfaat, tetapi sisi lain membawa bahaya. Ekses (pengaruh negatif) dari perkembangan teknologi antara lain :
-Perubahan gaya hidup, yakni perubahan apa yang dibutuhkan menjadi apa yang diinginkan, begitupula dengan sebaliknya.
-Tantangan karir --> harus menguasai teknologi dan up to date
-Perubahan regulasi
-Pergeseran kekuatan
6. Berbagai Paradigma Dalam Teknologi Komunikasi
a. Determinasi Teknologi
Ini berasumsi bahwa teknologi adalah kekuatan kunci dalam mengatur masyarakat. Parameter teknologi adalah efektivitas dan efesiensi untuk mencapai tujuan. Karenanya, teknologi merupakan simbol kemajuan peradaban manusia.
b. Fenomenologi Teknologi
Yaitu memahami teknologi dalam kaitannya dengan fenomena sosial yang melingkupi teknologi.
c. Otoriterianisme
Ini merupakan paradigma paling tua, ini menempatkan media sebagai alat propaganda pemerintah.
d. Liberalisme
Teknologi media tidak lagi menjadi alat pemerintah, tetapi bisa dimiliki secara pribadi
e. Tanggung jawab sosial
Ini merupakan perkembangan dari paradigma liberal, tetapi harus muncul sensibilitas besar terhadap dampak buruk teknologi liberal, yaitu kepemilikan media yang monopolistik dan dampak-dampaknya terhadap potensi manipulasi informasi oleh kekuatan modal.
7. Pemikiran Jaques Ellul tentang Teknologi Komunikasi
Ia mengatakan bahwa teknologi komunikasi merupakan kekuatan sosial baru yang menjadi kebutuhan manusia. Kita tidak bisa hidup tanpa teknologi, tapi pada saat yang sama kita juga harus menghadapi resiko dan konsekuensi yang dibawa oleh teknologi.
C. Komunikasi Efektif dan Strategi Komunikasi
The Conditions of Success in Communication (Wilbur Schramm) :
-Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan
-Pesan harus menggunakan lambang yang memiliki pengertian yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama mengerti
-Pesan harus dapat menumbuhkan kebutuhan pribadi komunikan sekaligus menyediakan alternatif mencapai kebutuhan tersebut
-Pesan harus berkaitan dengan kebutuhan kelompok dimana komunikan berada
Nathania Clairine
14140110369
HAKIKAT FILSAFAT KOMUNIKASI
Proses komunikasi dari 2 perspektif besar, yaitu perspektif psikologis dan mekanis. Perspektif psikologis dalam proses komunikasi hendak memperlihatkan bahwa komunikasi adalah aktivitas psikologi sosial yang melibatkan komunikator, komunikan, isi pesan, lambang, sifat hubungan, persepsi, proses decoding, dan encoding. Sedangkan, perspetif mekanis memperlihatkan bahwa proses komunikasi adalah aktivitas mekanik yang dilakukan oleh komunikator, yang sangat bersifat situasional dan kontekstual.
Pemikiran Richard L. Lanigan
Ia membahasa secara khusus tentang analisis filosofis atas proses komunikasi. Filsafat dalam disiplin ilmu komunikasi biasanya meletakkan titik refleksinya pada pertanyaan - pertanyaan :
- Apa yang aku ketahui? (masalah ontologi atau metafisika)
- Bagaimana aku mengetahuinya? (masalah epistemologi)
- Apakah aku yakin? (maslaah aksiologi)
- Apakah aku benar? (masalah logika)
1. Metafisika
Richard juga mengatakan bahwa metafisika adalah studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realitas.
2. Epistemologi
Hal lain adalah keberadaan yang mutlak, yang sama sekali tidak bergantung pada yang lain.
3. Aksiologi
Ini adalah cabang filsafat yang ingin merefleksikan cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan diperoleh.
4. Logika
Ini adalah cabang filsafat yang menelaah asas dan dasar metode penalaran secara benar dalam hal ini cara berkomunikasi secara lebih baik dan benar.
Pemikiran Stephen W. Littlejohn
Komunikasi menurut Littlejohn dapat digambarkan dalam matrik persilangan antara tingkah laku sumber pesan dan tingkah laku penerima pesan.
Pemikiran Whitney R. Mundt
Ia tidak memperhitungkan filsafat komunikasi sebagai filsafat yang sebenarnya. Filsafat komunikasi menampilkan kekuatan media dan prinsip-fungsi media berikut dengan hubungannya dengan negara.
NATHANIA CLAIRINE
14140110369
Pemikiran Richard L. Lanigan
Ia membahasa secara khusus tentang analisis filosofis atas proses komunikasi. Filsafat dalam disiplin ilmu komunikasi biasanya meletakkan titik refleksinya pada pertanyaan - pertanyaan :
- Apa yang aku ketahui? (masalah ontologi atau metafisika)
- Bagaimana aku mengetahuinya? (masalah epistemologi)
- Apakah aku yakin? (maslaah aksiologi)
- Apakah aku benar? (masalah logika)
1. Metafisika
Richard juga mengatakan bahwa metafisika adalah studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realitas.
2. Epistemologi
Hal lain adalah keberadaan yang mutlak, yang sama sekali tidak bergantung pada yang lain.
3. Aksiologi
Ini adalah cabang filsafat yang ingin merefleksikan cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan diperoleh.
4. Logika
Ini adalah cabang filsafat yang menelaah asas dan dasar metode penalaran secara benar dalam hal ini cara berkomunikasi secara lebih baik dan benar.
Pemikiran Stephen W. Littlejohn
Komunikasi menurut Littlejohn dapat digambarkan dalam matrik persilangan antara tingkah laku sumber pesan dan tingkah laku penerima pesan.
Pemikiran Whitney R. Mundt
Ia tidak memperhitungkan filsafat komunikasi sebagai filsafat yang sebenarnya. Filsafat komunikasi menampilkan kekuatan media dan prinsip-fungsi media berikut dengan hubungannya dengan negara.
NATHANIA CLAIRINE
14140110369
Selasa, 05 April 2016
KEBENARAN DALAM ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI
A. Pengertian Kebenaran
Kata benar mempunyai arti secara etimologi (bahasa) :
1. Tidak salah, lurus, dan adil
2. Sungguh - sungguh, tidak bohong
3. Sesungguhnya, memang demikian halnya
4. Sangat, sekali
Secara epistemologi:
1. Teori koherensi
Pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi atau hipotesis dianggap benar bila ia sejalan dengan pengetahuan, teori, proposisi atau hipotesis lainnya, yakni kalau proposisi itu meneguhkan dan konsisten dengan sebelumnya.
2. Teori korespondensi
Suatu pernyataan benar jika ia berhubungan dengan objek yang dituju oleh pernyataan itu.
3. Teori pragmatis
Suatu pernyataan dinilai benar jika konsekuensi dari pernyataan itu mempunya kegunaan praktis bagi kehidupan manusia.
4. Teori koherensi
Sesuatu dianggap benar, bila ia berkaitan dengan pernyataan sebelumnya yang sudah pasti benar.
B. Kebenaran Ilmiah dan Kebenaran Non-ilmiah
- Kebenaran karena kebetulan
- Kebenaran karena akal sehat
- Kebenaran agama dan wahyu
- Kebenaran intuitif
- Kebenaran karena trial and error
- Kebenaran spekulasi
- Kebenaran karena kewibawaan
- Kebenaran karena kekuasaan
C. Kebenaran Kefilsafatan
1. Objek materi, di mana filsafat mempelajari segala sesuatu yang ada, sehingga dapat kita pahami bahwa kebenaran ilmu pengetahuan bersifat umum, yang berarti tidak terkait dengan jenis - jenis objek tertentu.
2. Objek formal, kebenaran ilmu pengetahuan filsafat itu bersifat metafisika, yakni meliputi ruang lingkup mulai dari konkret-khusus sampai abstrak-universal.
3. Metode, kefilsafatan terarah apada pencapaian pengetahuan esensial atas setiap hal dan pengetahuan eksistensial daripada segala sesuatu dalam keterikatan yang utuh.
4. Sistem, kebenaran bersifat dialektis, yakni senantiasa terarah kepada keterbukaan bagi masuknya ide-ide baru dan pengetahuan-pengetahuan baru yang semakin memperjelas kebenaran.
D. Kebenaran Sebagai Nilai Fundamental
Komitmen terhadap kebenaran merupakan salah satu nilai fundamental dalam kehidupan manusia, yang telah ada sejak zaman dahulu kala.
E. Makna Penting Kebenaran
Kebenaran dipandang sebagai sesuatu yang penting :
1. Ketiadaan integritas dalam komunikasi antarmanusia akan berbuntut pada penggusuran otonomi individu
2. Kebenaran menunjukkan rasa menghargai orang lain sebagai tujuan, bukan alat
3. Kebenaran merupakan unsur yang esensial bagi kelancaran proses demokrasi
F. Dikotomi Kebenaran Dalam Komunikasi
Jaringan komunikasi yang berskala global telah menggiring ke arah proses komunikasi dan arus informasi yang berlangsung cepat dan padat. Dalam dorongan kecepatan yang tak kuasa dikendalikan, komunikasi dan informasi menjadi sebuah teror, yang menghasilkan kecemasan dan kondisi panik.
NATHANIA CLAIRINE
14140110369
Kata benar mempunyai arti secara etimologi (bahasa) :
1. Tidak salah, lurus, dan adil
2. Sungguh - sungguh, tidak bohong
3. Sesungguhnya, memang demikian halnya
4. Sangat, sekali
Secara epistemologi:
1. Teori koherensi
Pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi atau hipotesis dianggap benar bila ia sejalan dengan pengetahuan, teori, proposisi atau hipotesis lainnya, yakni kalau proposisi itu meneguhkan dan konsisten dengan sebelumnya.
2. Teori korespondensi
Suatu pernyataan benar jika ia berhubungan dengan objek yang dituju oleh pernyataan itu.
3. Teori pragmatis
Suatu pernyataan dinilai benar jika konsekuensi dari pernyataan itu mempunya kegunaan praktis bagi kehidupan manusia.
4. Teori koherensi
Sesuatu dianggap benar, bila ia berkaitan dengan pernyataan sebelumnya yang sudah pasti benar.
B. Kebenaran Ilmiah dan Kebenaran Non-ilmiah
- Kebenaran karena kebetulan
- Kebenaran karena akal sehat
- Kebenaran agama dan wahyu
- Kebenaran intuitif
- Kebenaran karena trial and error
- Kebenaran spekulasi
- Kebenaran karena kewibawaan
- Kebenaran karena kekuasaan
C. Kebenaran Kefilsafatan
1. Objek materi, di mana filsafat mempelajari segala sesuatu yang ada, sehingga dapat kita pahami bahwa kebenaran ilmu pengetahuan bersifat umum, yang berarti tidak terkait dengan jenis - jenis objek tertentu.
2. Objek formal, kebenaran ilmu pengetahuan filsafat itu bersifat metafisika, yakni meliputi ruang lingkup mulai dari konkret-khusus sampai abstrak-universal.
3. Metode, kefilsafatan terarah apada pencapaian pengetahuan esensial atas setiap hal dan pengetahuan eksistensial daripada segala sesuatu dalam keterikatan yang utuh.
4. Sistem, kebenaran bersifat dialektis, yakni senantiasa terarah kepada keterbukaan bagi masuknya ide-ide baru dan pengetahuan-pengetahuan baru yang semakin memperjelas kebenaran.
D. Kebenaran Sebagai Nilai Fundamental
Komitmen terhadap kebenaran merupakan salah satu nilai fundamental dalam kehidupan manusia, yang telah ada sejak zaman dahulu kala.
E. Makna Penting Kebenaran
Kebenaran dipandang sebagai sesuatu yang penting :
1. Ketiadaan integritas dalam komunikasi antarmanusia akan berbuntut pada penggusuran otonomi individu
2. Kebenaran menunjukkan rasa menghargai orang lain sebagai tujuan, bukan alat
3. Kebenaran merupakan unsur yang esensial bagi kelancaran proses demokrasi
F. Dikotomi Kebenaran Dalam Komunikasi
Jaringan komunikasi yang berskala global telah menggiring ke arah proses komunikasi dan arus informasi yang berlangsung cepat dan padat. Dalam dorongan kecepatan yang tak kuasa dikendalikan, komunikasi dan informasi menjadi sebuah teror, yang menghasilkan kecemasan dan kondisi panik.
NATHANIA CLAIRINE
14140110369
FILSAFAT DAN PERKEMBANGAN ILMU KOMUNIKASI
A. Kodrat Filsafat
Ada keyakinan mendasar bahwa filsafat bertitik tolak pada pengalaman. Manusia yang berfilsafat berada dalam satu konteks pengalaman tertentu. Ada tiga ciri kualitas pengetahuan filsafat atau menunjuk bahwa suatu pengetahuan itu khas filosofis.
1. Alat analisis adala akal budi
2. Hakikat metode filsafat bersifat multipleks
3. Tujuan filsafat bukan bersifat praktis
B. Relasi Filsafat dan Ilmu
Kebenaran dalam filsafat dan ilmu adalah "kebenaran akal", sedangkan kebenaran menurut agama adalah "kebenaran wahyu". Dengan demikian, maka sejatinya tanpa agama manusia sudah dapat menemukan kebenaran, dan bahkan sudah mampu menentukan adanya Tuhan, yakni sesuatu di luar manusia yang bisa menentukan baik buruknya kehidupan manusia.
Pengetahuan yang telah disusun atau disistematisasi lebih lanjut dan telah dibuktikan serta diakui kebenarannya adalah ilmu.
C. Relasi Filsafat dan Agama
"Agama adalah candu rakyat", merupakan teks Karl Marx yang paling umum dikenal sampai sekarang. Menurutnya, agama menjadi candu rakyat sebagai suatu keadaan objektif dalam masyarakat. Adanya agama mencerminkan struktur - struktur sosial tidak sehat dalam masyarakat (kapitalis).
D. Filsafat dan Perkembangan Ilmu Komunikasi
Semua makhluk hidup pada dasarnya berkomunikasi. Komunikasi sebagai praktik sudah ada seiring dengan terciptanya manusia, dan menusia menggunakan komunikasi dalam rangka melakukan aktivitas sosialnya.
Perkembangan ilmu komunikasi:
1. Masa awal pembentukan disiplin komunikasi
2. Periode 1900-1930
3. Periode 1930-1950
Selanjutnya, komunikasi berkembang sesuati dengan payung teorinya :
1. Discourse of representative
2. Discourse of understanding
3. Discourse of suspicion
4. Discourse of vulnerability
Nathania Clairine
14140110369
Ada keyakinan mendasar bahwa filsafat bertitik tolak pada pengalaman. Manusia yang berfilsafat berada dalam satu konteks pengalaman tertentu. Ada tiga ciri kualitas pengetahuan filsafat atau menunjuk bahwa suatu pengetahuan itu khas filosofis.
1. Alat analisis adala akal budi
2. Hakikat metode filsafat bersifat multipleks
3. Tujuan filsafat bukan bersifat praktis
B. Relasi Filsafat dan Ilmu
Kebenaran dalam filsafat dan ilmu adalah "kebenaran akal", sedangkan kebenaran menurut agama adalah "kebenaran wahyu". Dengan demikian, maka sejatinya tanpa agama manusia sudah dapat menemukan kebenaran, dan bahkan sudah mampu menentukan adanya Tuhan, yakni sesuatu di luar manusia yang bisa menentukan baik buruknya kehidupan manusia.
Pengetahuan yang telah disusun atau disistematisasi lebih lanjut dan telah dibuktikan serta diakui kebenarannya adalah ilmu.
C. Relasi Filsafat dan Agama
"Agama adalah candu rakyat", merupakan teks Karl Marx yang paling umum dikenal sampai sekarang. Menurutnya, agama menjadi candu rakyat sebagai suatu keadaan objektif dalam masyarakat. Adanya agama mencerminkan struktur - struktur sosial tidak sehat dalam masyarakat (kapitalis).
D. Filsafat dan Perkembangan Ilmu Komunikasi
Semua makhluk hidup pada dasarnya berkomunikasi. Komunikasi sebagai praktik sudah ada seiring dengan terciptanya manusia, dan menusia menggunakan komunikasi dalam rangka melakukan aktivitas sosialnya.
Perkembangan ilmu komunikasi:
1. Masa awal pembentukan disiplin komunikasi
2. Periode 1900-1930
3. Periode 1930-1950
Selanjutnya, komunikasi berkembang sesuati dengan payung teorinya :
1. Discourse of representative
2. Discourse of understanding
3. Discourse of suspicion
4. Discourse of vulnerability
Nathania Clairine
14140110369
PENGERTIAN, PERKEMBANGAN, DAN MASALAH DASAR FILSAFAT
A. Pengertian Filsafat
Secara etimologi atau asal usul bahasa, kata filsafat berasalah dari bahasa Yunani, "philosophia", yang merupakan penggabungan dua kata, yakni "philos" atau "philein" yang berarti cinta, mencintai, atau pecinta, serta kata "sophia" yang berarti kebijaksanaan atau hikmat. Berarti filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan.
Orang yang mencintai kebijaksanaan akan selalu tertarik untuk mencari sebuah kebenaran. Sedangkan secara epistemologi(istilah), terdapat ratusan rumusan pengertian dari filsafat itu sendiri. Namun secara mendasar, filsafat adalah hasrat atau keinginan yang sungguh - sungguh untuk menemukan kebenaran sejati.
B. Perkembangan Filsafat
1. Filsafat India
Keyakinan bahwa ada kesatuan fundamental antara manusia dan alam, harmoni antara individu dan kosmos.
a. Zaman Weda
b. Zaman Skeptisisme
c. Zaman Puranis
d. Zaman Muslim
e. Zaman Modern
2. Filsafat Cina
Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat Cina, yakni harmoni, toleransi, dan perikemanusiaan.
a. Zaman Klasik
-Konfusiniasme
-Taoisme
-Moisme
-Fa Chia
b. Zaman Neo-Taoisme dan Buddhisme
c. Zaman Neo-Konfunisianisme
d. Zaman Modern
3. Filsafat Islam
-Kedudukan akal tinggi di dalamnya, sehingga mereka tidak mau tunduk pada arti harafiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah.
- Akal menunjukkan kekuatan manusia, maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat, yaitu manusia dewasa.
4. Filsafat Barat
a. Zaman Kuno
b. Puncak zaman klasik : Socrates, Plato, dan Aristoteles
c. Zaman Patristik
d. Zaman Skolastik
e. Zaman Modern
- Zaman Renaissance (kelahiran kembali)
Pembaruan terpenting dalam filsafat ini adalah antroposentris. Pusat perhatiannya tidak lagi kosmos, melainkan manusia.
-Zaman Pencerahan
-Zaman Romantik
Aliran ini disebut dengan idealisme (memprioritaskan ide - ide, berlawanan dengan materialisme yang memprioritaskan dunia material.
-Masa Kini
Macam - macam aliran baru muncul, dan aliran - aliran ini sering terikat pada hanya satu negara atau satu lingkungan bahasa.
C. Masalah Masalah Dasar Filsafat
1. Logika sebagai dasar Landasan Penalaran
2. Epistemologi sebagai Lnadasan Pengetahuan
3. Metafisika sebagai Landasan Memahami Hakikat
4. Metode Filsafat
-Zeno
-Sokratik
-Plato
-Aristoteles
-Skolastik
D. Isu Isu Filosofis Studi Komunikasi
1. Isu isu epistemologis
-Apakah pengetahuan ada karena pengalaman?
-Apakah pengetahuan bersifat pasti?
-Proses apa yang menyebabkan tumbuhnya pengetahuan?
-Apakah pengetahuan sebaiknya dipahami secara terpisah atau menyeluruh?
-Apakah pengetahuan harus eksplisit?
2. Isu Ontologi
-Apakah manusia membuat pilihan yang sebenarnya?
-Apakah perilaku manusia sebaiknya dipahami secara permanen atau temporal?
-Apakah pengalaman manusia bersifat individual atau sosial?
-Atas dasar apa komunikasi dikontekstualisasikan?
3. Isu Aksiolgi
-Dapatkah teori bersifat bebas nilai atau tidak?
-Apakah ilmuwan memengaruhi teori yang dihasilkan atau tidak?
-Apakah ilmuwan memengaruhi proses sosial atau tidak?
Nathania Clairine
1414011039
Secara etimologi atau asal usul bahasa, kata filsafat berasalah dari bahasa Yunani, "philosophia", yang merupakan penggabungan dua kata, yakni "philos" atau "philein" yang berarti cinta, mencintai, atau pecinta, serta kata "sophia" yang berarti kebijaksanaan atau hikmat. Berarti filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan.
Orang yang mencintai kebijaksanaan akan selalu tertarik untuk mencari sebuah kebenaran. Sedangkan secara epistemologi(istilah), terdapat ratusan rumusan pengertian dari filsafat itu sendiri. Namun secara mendasar, filsafat adalah hasrat atau keinginan yang sungguh - sungguh untuk menemukan kebenaran sejati.
B. Perkembangan Filsafat
1. Filsafat India
Keyakinan bahwa ada kesatuan fundamental antara manusia dan alam, harmoni antara individu dan kosmos.
a. Zaman Weda
b. Zaman Skeptisisme
c. Zaman Puranis
d. Zaman Muslim
e. Zaman Modern
2. Filsafat Cina
Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat Cina, yakni harmoni, toleransi, dan perikemanusiaan.
a. Zaman Klasik
-Konfusiniasme
-Taoisme
-Moisme
-Fa Chia
b. Zaman Neo-Taoisme dan Buddhisme
c. Zaman Neo-Konfunisianisme
d. Zaman Modern
3. Filsafat Islam
-Kedudukan akal tinggi di dalamnya, sehingga mereka tidak mau tunduk pada arti harafiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah.
- Akal menunjukkan kekuatan manusia, maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat, yaitu manusia dewasa.
4. Filsafat Barat
a. Zaman Kuno
b. Puncak zaman klasik : Socrates, Plato, dan Aristoteles
c. Zaman Patristik
d. Zaman Skolastik
e. Zaman Modern
- Zaman Renaissance (kelahiran kembali)
Pembaruan terpenting dalam filsafat ini adalah antroposentris. Pusat perhatiannya tidak lagi kosmos, melainkan manusia.
-Zaman Pencerahan
-Zaman Romantik
Aliran ini disebut dengan idealisme (memprioritaskan ide - ide, berlawanan dengan materialisme yang memprioritaskan dunia material.
-Masa Kini
Macam - macam aliran baru muncul, dan aliran - aliran ini sering terikat pada hanya satu negara atau satu lingkungan bahasa.
C. Masalah Masalah Dasar Filsafat
1. Logika sebagai dasar Landasan Penalaran
2. Epistemologi sebagai Lnadasan Pengetahuan
3. Metafisika sebagai Landasan Memahami Hakikat
4. Metode Filsafat
-Zeno
-Sokratik
-Plato
-Aristoteles
-Skolastik
D. Isu Isu Filosofis Studi Komunikasi
1. Isu isu epistemologis
-Apakah pengetahuan ada karena pengalaman?
-Apakah pengetahuan bersifat pasti?
-Proses apa yang menyebabkan tumbuhnya pengetahuan?
-Apakah pengetahuan sebaiknya dipahami secara terpisah atau menyeluruh?
-Apakah pengetahuan harus eksplisit?
2. Isu Ontologi
-Apakah manusia membuat pilihan yang sebenarnya?
-Apakah perilaku manusia sebaiknya dipahami secara permanen atau temporal?
-Apakah pengalaman manusia bersifat individual atau sosial?
-Atas dasar apa komunikasi dikontekstualisasikan?
3. Isu Aksiolgi
-Dapatkah teori bersifat bebas nilai atau tidak?
-Apakah ilmuwan memengaruhi teori yang dihasilkan atau tidak?
-Apakah ilmuwan memengaruhi proses sosial atau tidak?
Nathania Clairine
1414011039
MENGAPA PERLU ETIKA KOMUNIKASI?
Informasi
yang benar mencerahkan kehidupan. Memiliki akses ke informasi berarti kemudahan
untuk mendapatkan kekuasaan atau mempertahankannya, yang pada gilirannya akan
membantu orang mendapatkan keuntungan. Informasi yang benar menhindarkan salah
paham dan menjadi sarana penting untuk menciptakan perdamaian. Media adalah sarana
utama untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi. Sayang, hak publik tidak
dijamin karena adanya pertarungan kepentingan dalam hal politik, ekonomi, atau
budaya. Tuntutan dari pasar juga cenderung mengubah secara mendasar sistem
media. Keprihatinan utama pengelola media adalah keuntungan.
1.1 Informasi sebagai Komoditi dan
Mimetisme
Informasi
dianggap sebagai barang dagangan. Ciri komersial ini menjadi lebih penting
daripada misi utama media, yaitu untuk klarifikasi dan memperkaya debat
demokrasi. Banyak berita yang memiliki nilai jual tinggi dipertahankan dalam
jangka waktu yang cukup lama. Bagi para news business, pasar informasi adalah
untuk mencari keuntungan. Jangan sampai pembaca, pemirsa, atau pendengar turun.
Mimetisme
adalah gairah yang tiba tiba menghinggapi media dan mendorongnya, seperti
sangat urgen, bergegas untuk meliput kejadian karena media lain, terutama
menjadi acuan, menganggapnya penting. Ikut – ikutan semacam ini dapat menjadi
sampai membentuk suatu keyakinan tertentu dalam publik.
1.2 Media Mengubah Integrasi Sosial,
Reproduksi Budaya, dan Partisipasi Politik
Integrasi
sosial menghadapi kendala dalam bentuk individualisme narcisik. Hanyut dalam
arus hedonisme individual, individu semacam ini cenderung memuja kultus masa
kini. Hal ini mengabaikan kontrol sosial dari instansi tradisional sehingga
norma – norma tradisional meredup.
Dalam
reproduksi budaya, atau lebih tepat justru produksi budaya, tekanannya adalah
harus selalu bergerak, selalu berubah bukan untuk suatu tujuan utopis tertentu,
tetapi karena diarahkan oleh efektivitas dan tuntutan agar dapat bertahan
hidup.
Dalam hal
partisipasi politik, individu tidak tertarik pada ideologi politik. Ideologi
politik tidak mampu memberi janji, bahkan proyek sejarahnya tidak mampu lagi
memobilisasi pengikut. Arena sosial menjadi tidak lain kecuali perpanjangan
lingkup privat. Jadi, para politisi dewasa ini berhadapan dengan basis
pendukung yang konsumerisme, individualis, mudah berubah pandangan, dan
skeptik. Media menyebarkan gaya hidup di mana sistem representasi menjadi objek
konsumsi.
1.3 Dilema Media Massa
Logika waktu
pendek ini menempatkan media massa dalam situasi yang dilematis. Di satu sisi,
idealisme media menuntut peran sebagai sarana pendidikan agar pembaca, pemirsa,
atau pendengar semakin memiliki sikap kritis, kemandirian, dan kedalaman
berpikir. Di sisi lain, pragmatisme ekonomi memaksa media mengadopsi logika
mode yang terpatri kepada yang spektakuler, sensasional, superfisial, dan pesan
yang beragam.
Media sangat
diharapkan akan meningkatkan mutu debat publik, tetapi justru mengubah politik
menjadi tontonan. Dalam upaya menarik perhatian, berbagai teknik dipakai oleh
media, bahkan sering membuat orang tidak bisa lagi membedakan yang benar,
palsu, simulasi, riil, dan yang hiperriil.
1.4 Pentingnya Pencitraan
Sudah menjadi
rahasia umum, keprihatinan utama media adalah keuntungan, yang tentu saja perlu
dihiasi dengan pernik-pernik idealisme kemanusiaan. Pencitraan
mendiskualifikasikan kategori kebenaran sehingga tidak bisa lagi dibedakan
antara realitas, representasi, simulasi, kepalsuan, dan hiperrealitas.
J.
Baudrillard menjelaskan empat fase citra.
1.
Representasi di mana citra merupakan cermin suatu realitas
2. Ideologi
di mana citra menyembunyikan bahwa tidak ada realitas
3. Citra
menyembunyikan bahwa tidak ada realitas
4. Citra
tidak ada hubungannya sama sekali dengan realitas apapun
1.5 Tiada Perlawanan Terorganisir dan
Bentuk Baru Sensor
Media massa
tidak bisa dilepaskan dari manuver kapital. Logika waktu pendek ikut mengubah
kapitalisme. Kapitalisme pasar uang menggagalkan visi jangka panjang negara
demi performance jangka pendek, sirkulasi cepat kapital pada tingkat global,
dan transaksi ekonomi semakin cepat.
Menghadapi
kapitalisme global, komersialisasi gaya hidup dan individualisasi yang tidak
terkontrol itu, tidak ada perlawanan terorganisir yang didukung oleh struktur
kuat dan ideologi yang serius. Media sebenarnya memiliki kesempatan untuk
memengaruhi masyarakat dengan menanamkan kebebasan dan inisiatif, tetapi media
justru semakin membuat khalayak tergantung dan kompulsif.
Dominasi –
dominasi oleh para pemegang kekuasaan menyebabkan ketidakadilan, pembodohan,
dan konsumerisme. Selain itu, dewasa ini sensor juga berubah bentuk. Sensor
tidak lagi tampak dalam bentuk primer karena bukan lagi masalah menghilangkan,
memotong, melarang sejumlah aspek fakta atau menyembunyikannya. Dalam
masyarakat demokratis, penguasa tidak lagi melarang wartawan untuk memberitakan
sesuatu
1.6 Tiga Syarat Kemungkinan Etika
Komunikasi
1. Media mempunyai
kekuasaan dan efek yang dahsyat terhadap publik.Padalah media mudah
memanipulasi dan mengaliensi audiens. Dengan demikian, etika komunikasi mau
melindungi publik yang lemah
2. Etika
komunikasi merupakan upaya untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan
berekspresi dan tanggung jawab
3. Mencoba
menghindari sedapat mungkin dampak negatif dari logika instrumental
(determinasi ekonomi dan teknologi).
Nathania Clairine
1414010369
Senin, 28 Maret 2016
ZAMAN YUNANI KUNO HINGGA AWAL ABAD XX
Hakikat filsafat adalah upaya mencari kebijaksanaan yang
mampu mencerahi pengalaman manusia, agar bisa menempatkan diri dalam memainkan
peranannya secara tepat di dalam seluruh kompleksitas pengalaman. Pada zaman
Yunanai kuno, filsafat sangat memonopoli pemahaman mengenai pengetahuan sejati.
Pada abad pertengahan, menyajikan teologi sebgai musuh utama
filsafat. Ciri khas dari abad pertengahan ini adalah semua filsuf yang dasarnya
adalah seorang teolog, sehingga filsafat tidak bisa menghindar dari prinsip
teologi. Tetapi, seiring berkembangnya ilmu pada abad ke XIV. Perhatian manusia
terhadap cara untuk menyatukan mengenai kenyataan menjadi bergeser. Para
peneliti mulai mengalihkan perhatian kepada hokum- hokum yang dapat
dimanfaatkan oleh kepntingan manusia.
Terdapat 3 tema Filsafat Analitik:
1. Studi tentang
peran bahasa di dalam komunikasi dan penalaran.
2. Metodelogi
(logic of inquiry)
3. Logika Formal.
Selain filsafat analitik, terdapat pula aliran- aliran yang
tidak boleh dianggap remeh, yaitu:
1. Pragmatisme
2. Fenomenologi
3. Hegelisnidme-
Marxisme
4. Filsafat
proses
POSTMODERNISME
Menurut
Feathersome, posmodernisme diambil dari kata 'posmo' yang memiliki arti 'istilah
yang menarik, tetapi sekaligus menjengkelkan'. Istilah 'posmo' ini seperti
filsafat, ingin rasanya menggali lebih dalam ada apa dibaliknya. Untuk hal ini
bisa terjadi, kita harus memiliki rasa optimisme yang tinggi. Namun, menurut
Jean Francois Lyotard optimisme manusia sudah mati. Mereka hanya mendasarkan
diri kepada filsafat dan sains. Mereka tidak memiliki keinginan untuk menggali
lebih dalam dan cukup puas dengan jawaban yang sudah ada. Ajarang 'posmo' ini
tidak bisa terlalu diperdalam, karena bisa-bisa kita akan terjebak dalam dunia
yang dihantui oelh rasa penasaran yang tinggi.
FILSAFAT DAN PERANANNYA
filsafat
memiliki seluruh arena dan seluruh hal yang terjadi dalam kehidupan, namun
fokus dari filsafat sendiri tentu berbeda-beda dan sesuai dengan apa yang
diminati filsuf yang menginterpretasikannya. Karena secara arti filsafat bisa
diartikan sebagai pengetahuan mengenai hal-hal mendasar, upaya mencari arti
hidup, ilmu tentang ilmu, dan masih banyak lainnya. Dengan begitu filsafat
sebagai kritik terhadap pengalaman, ilmu-ilmu, dan sebagai upaya membentuk visi
koheren, tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)