Tampilkan postingan dengan label Monica Khoirunnisa Permana 14140110383. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Monica Khoirunnisa Permana 14140110383. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2016

MEDIA BARU DAN KEBEBASAN BEREKSPRESI MEDIA/PERS DAN INDIVIDU

MEDIA BARU DAN KEBEBASAN BEREKSPRESI MEDIA/PERS DAN INDIVIDU


Perkembangan teknologi terutama dalam lingkup informasi dan komunikasi semakin pesat. Hal inilah yang mengantarkan masyarakat sekarang menjadi masyarakat informasi, yaitu masyarakat yang hidup dalam lingkungan yang sangat memudahkan dalam mendapat informasi. Perkembangan teknologi ini mengenalkan kita kepada new media atau media baru.

Media baru memiliki platform modern yang sudah tidak berupa cetak atau suara dan gambar saja. Namun, melalui jaringan internet, platform yang muncul bisa bersifat multiplatform dan menyediakan konten dalam berbagai bentuk secara bersamaan seperti gambar, video, tulisa, dan suara. Contoh new media adalah platform-paltform sosial media seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, Youtube, Tumblr dan sebagainya. Untuk menjadi bagian dari masyarakat ini cukup mudah, karena untuk mengakses media baru tersbut sangat mudah dan sederhana. \

            Kemudahan mengakses inilah yang membuat semua orang dapat menggunakannya. Kebebasan yang disediakan sarana baru ini cukup tinggi, terutama karena pengawasan flow informasi masih belum terlalu berjalan dari negara. Namun kebebasan tingkat tinggi ini jugalah yang menuai kontroversi, apakah ini suatu hal yang baik atau tidak? Karena akibat dari kebebasan inilah literasi media seseorang yang belum terlalu bagus bisa menghasilkan opini-opini yang kurang mendidik dan bisa ditelan bulat-bulat pula bagi pengguna yang juga memiliki tingkat literasi media yang rendah.


            Namun, apabila prinsip tanggung jawab atas tulisan dan sekaligus menghormati prinsip kebebasan berekspresi maka platform baru itu bisa berfungsi secara efektif. Karena sifat media sosial yang lebih mudah dan “langsung” bisa ditanggapi pembaca, maka media baru tersebut bisa berfungsi sebagai kontrol sosial dan bisa mewakili suar aminoritas yang selama ini kesusahan dalam berpendapat.

KEPENTINGAN, TEKANAN EKONOMI, DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL

KEPENTINGAN, TEKANAN EKONOMI, DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL

                       
Tanggung jawab sosial bisa tidak dapat terlaksana karena adanya kepentingan bermotif ekonomi. Ada tiga sumber kegiatan ekonomi; pendukung finansial seperti investor, pemilik, pemasang iklan, dan pelanggan; para pesaing; dan masyarakat secara utuh. Setiap media berlomba-lomba mendapatkan perhatian pemirsa dengan membuat konten yang kreatif.

Ada 3 pendorong munculnya neoliberalisme:
·      Berkembangnya multinational corporate
·      Munculnya surveillance system dari dunia internasional
·      Revolusi di bidang komunikasi dan transportasi

Upaya penghapusan regulasi negara atas industry media merupakan pertanda datangnya gelombang neoliberalisme. Walaupun fenomena ini membebaskan media dari kekangan pemerintah, tetapi celah untuk dunia kapitalis berkembang semakin besar. Tekanan ekonomi dan tekanan politik inilah yang membuat nilai-nilai etis di media semakin luntur.

Media seharusnya menjalankan fungsi sebagai pelayan public. Namun, media mulai terdesak kepentingan pengusahanya yang juga berusaha menjadi penguasa. Maka ruang public tersedot frekuensinya oleh kepentingan-kepentingan pemilik. Kinerja ideal jurnalis juga berubah, dan semua karya-karya jurnalistik lewat media sudah diatur agar bisa menguntungkan korporasi dan penguasa.


MEDIA LITERACY DAN TANGGUNG JAWAB INDIVIDU DALAM BERMEDIA

MEDIA LITERACY DAN TANGGUNG JAWAB INDIVIDU DALAM BERMEDIA


            Media literacy adalah jawaban dari maraknya pandangan masyarakat tentang akibat yang timbul dari paparan produk-produk media massa. Dampak yang dimaksud bersifat negative dan tidak diharapkan. Jawabannya adalah perlu dimilikinya suatu kemampuan, pengetahuan, sekaligus kesadaran sebagai khalayan konsumen media.

Menurut James Potter, ada 3 faktor mengapa media literasi penting:
1.     Kejenuhan yang muncul akibat kebanjiran informasi
2.     Paparan media yang secara terus menerus ke masyarakat
3.     Membatasi derasnya arus informasi

Potter juga memiliki cara untuk mengembangkan kemampuan media literacy:
1.     Memperoleh pemahaman dasar
2.     Penguasaan bahasa
3.     Pemahaman narasi, membedakan apa yang nyata dan tidak nyata, memahami acara dan alur sehingga menangkap pesan yang dituju.
4.     Berkembangnya sikap skeptic,
5.     Pengalaman menjelajah, memiliki keinginan untuk mencari tahu suatu issue secara mendalam.
6.     Apresiasi kritis

7.     Tanggung jawab sosial

MANIPULASI MEDIA DAN KESADARAN PALSU, PORNOGRAFI DAN KEKERASAN SERTA PROPAGANDA DALAM MEDIA

MANIPULASI MEDIA DAN KESADARAN PALSU, PORNOGRAFI DAN KEKERASAN SERTA PROPAGANDA DALAM MEDIA


A. Pornografi
           
            Dalam media dapat ditemukan mulai dari iklan hingga program. Banyak unsur-unsur yang muncul walaupun tidak terlalu terlihat, biasanya diwakili dengan sisipan-sisipan yang memiliki unsur ambiguitas. Dalam konten program terutama TV, unsur pornografi tidak lagi memiliki alur cerita. Dalam pornografi, cerita yang ada tidak lagi diharuskan memiliki latar belakang sesungguhnya. Kisah-kisah buatan yang dilengkapi tokoh palsu tanpa identitas dan sejarah menjadi subjeknya.
            Dengan pornografi, dorongan munculnya manipulasi realitas mulai muncul. Walaupun cerita dan tokoh hasil manipulasi dan hanya dijadikan materi. Depersonilasi adalah dampak yang dibawa dari paparan konten pornografi. Hilangnya perasaan bahwa tubuh kita adalah bagian dari diri kita, bisa terjadi akibat teus menerus mengkonsumsi pornografi. Individu tersebut akan merasa memiliki perasaan hidup dalam film atau konten-konten media yang seakan-akan sudah mewakili dan menggambarkan seperti apa realitas. Sehingga, penonton hanya akan mengkonnsumsi program berisi konten pornogradi untuk memuaskan dorongan seksual.

B. Erotisme

            Erotisme berbeda dengan pronografi. Dalam erotisme bentuk yang ditekankan adalam imajinasi dan sugesti. Pengungkapan hasrat lebih diungkapkan lewat kata-kata dan simbol, tidak terlalu menggunakan bahasa visual seperti pengungkapan bagian-bagian tubuh tertentu. Erotisme berada di batas ambiguitas. Erotisme dapat mengatakan semua dengan cara tersembunyi. Karya-karya erotisme cukup berisikop mengandung konten pornografi.

C. Kekerasan dalam Media/Pers

            Definisi dari kekerasan dapat diartikan sebagai tindakan yang mendasari pada kekuatan untuk memaksa pihak lain tanpa peretujuan. Biasanya mengandung unsur dominasi dalam bentuk fisik, verbal, non verbal, moral, psikologis, atau bahkan dalam bentuk visual. Dampak sasarannya bisa tertuju pada aspek psikologis yaitu cara berpikir dan bertindaknya. Tidak semua kekerasan dalam media memiliki reaksi negative berupa penolakan dan protes, namun reaksi kagum dan memikar juga bisa muncul.

            Media membuat gambar-gambar kekerasan menjadi suatu hal yang biasa. Media mengatur konten-konten tontonan agar dalam pandangan pemirsa tontonan tersebut menjadi hal biasa dan dapat dapat diterima seutuhnya. Bahaya yang ditimbulkan bisa tanpa transfer pemahaman dan perwujudan tindak kekerasan dari media ke dunia nyata.

PRIVASI DAN KERAHASIAAN/ KONFIDENSIALITAS DALAM ETIKA KOMUNIKASI DAN KEPENTINGAN UMUM

PRIVASI DAN KERAHASIAAN/ KONFIDENSIALITAS DALAM ETIKA KOMUNIKASI DAN KEPENTINGAN UMUM


A. Privasi

            Hak untuk dibiarkan atau hak untuk mengontrol publikasi yang tidak diinginkan tentang urusan personal seseorang. Yang dimaksud dengan urusan personal adalah hal yang bersifat privasi, namun masyarakat bahkan public figure sering salah dalam memahami arti privasi. Banyak yang beranggapan bahwa public figure tidak akan memiliki privasi. Namun, pandangan itu salah karena privasi merupakan hak personal.
            Prinsip konfidensialitas (kerahasiaan) adalah kewajiban untuk menjaga kerahasiaan identitas narasumber, atau bahkan info dari narasumber itu sendiri dalam kondisi tertentu. Privasi berkaitan dengan komunikator (orang pertama), sedangkan konfidensialitas berfokus pada komunikan (orang kedua).

B. Privasi dan Konfidensialitas sebagai Nilai
           
Nilai Privasi:
·      Otonomi individu merujuk pada kemampuan individu mengontrol apa yang akan terjadi pada dirinya. Pelanggaran privasi yang tidak bisa dikontrol dan dilanggar akan merusak citra seseorang yanb telah dibangun sendiri
·      Privasi bisa melindungi dari reaksi negative seperti ejekan khusunya dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai tertentu dan rendah dalam toleransi. Contohnya beberapa gaya hidup dan tingkah laku yang dianggap aneh. Contohnya kaum LGBT, pecandu alcohol, epnderita PMS, dan pemakai narkoba.
·      Merupakan mekanisme untuk mengontol reputasi, karena semakin banyak yang orang ketahui tentang kita, maka semakin berkurang kekuatan kita untuk menentukan nasib sendiri
·      Merupakan perangkat berlangsungnya interaksi sosial.
·      Benteng kekuasaan pemerintah, menjaga agar kekuasaan tidak disalahgunakan

C. Nilai Konfidensialitas

  1. Kemampuan untuk menyimpan rahasia merupakan perwujudan otonomi individu.
  2.  setiap orang butuh ruang pribadi. Konfidensialitas mewujudkan ruang pribadi [privat sphere].
  3. Konfidensialitas menumbuhkan rasa saling mempercayai.
  4. Konfidensialitas penting untuk mencegah tindakan menyakiti orang lain.
  5. Konfidensialitas merupakan sarana untuk mewujudkan tujuan kelompok sosial.