Tampilkan postingan dengan label Adhyra Ramadiani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adhyra Ramadiani. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Mei 2016

Kebebasan dan Tanggungjawab dan Keterkaitannya dengan Etika Komunikasi dalam Perilaku Media/ Pers

Adhyra Ramadiani 14140110360

Kebebasan dan Tanggungjawab dan Keterkaitannya dengan Etika Komunikasi dalam Perilaku Media/ Pers

Memahami Kebebasan
-          Pengalaman tentang Kebebasan dan Arti Kebebasan
Kebebasan merupakan sebuah unsur yang hakiki di kehidupan kita. Kebebasan dalam ilmu filsafat memiliki arti bahwa kita sebagai manusia dapat menentukan diri kita sendiri.
-          Anatomi Kebebasan Individual
•         Kesewenang-Wenangan
Bebas berarti terlepas dari kewajiban dan keterikatan, seperti saat seorang pelajar yang bebas adalah pelajar yang bisa masuk dan tidak masuk sekolah sesukanya. Seorang pekerja dapat mengatakan bahwa jam sekian ia masih bebas, maksudnya, tidak terikat oleh janji atau komitmen lain.
•         Kebebasan Fisik
Kebebasan fisik berarti tiada paksaan atau rintangan dari luar atau seseorang akan menganggap dirinya bebas jika ia dapat bergerak kemana pun ia mau.
•         Kebebasan Yuridis
Syarat-syarat fisik dan sosial perlu dipenuhi agar kita dapat menjalankan kebebasan kita secara penuh. Kebebasan yang berdasarkan pada hukum positif ini diciptakan oleh negara. Kebebasan-kebebasan ini merupakan buah hasil perundang-undangan, jika tidak dirumuskan maka sampai saat ini kebebasan tersebut tidak akan pernah ada.
•         Kebebasan Psikologis
Kebebasan ini sangatlah penting, dimana manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan serta mengarahkan hidupnya.
•         Kebebasan Moral
Kebebasan moral adalah kebebasan tanpa paksaan moral, atau dengan kata lain kebebasan moral berarti suka rela (voluntary).
•         Kebebasan Eksistensial
Kebebasan yang menyeluruh yang menyangkut seluruh pribadi manusia dan tidak terbatas pada salah satu aspek saja. Kebebasan ekstensial adalah kebebsan etis. Kebebasan ini terutama merupakan suatu ideal atau cita-cita yang bisa memberi arah dan makna kepada kehidupan manusia.

-          Masalah-masalah dalam Kebebasan

Memahami Tanggung-Jawab
-          TanggungJawab dan Kebebasan
Bertanggungjawab berarti dapat menjawab, bila ditanyai tentang perbuatan-perbuatan yang dilakukan. Tanggung jawab berarti orang tidak boleh mengelak bila diminta penjelasan tentang tingkah laku atau perbuatannya.
-          Tingkat-Tingkat Tanggung jawab
Untuk menentukan bertanggung jawabkah seseorang dalam perbuatannya, kita harus sesuaikan dengan apa yang dilakukan seseorang tersebut, yang berkaitan dengan tugasnya dan kewajiban terhadap apa yang dilakukannya.
Contoh :
•       Ali mencuri tapi dia tidak tahu bahwa ia mencuri.
Ali mengambil tas milik orang lain berisikan uang 100 juta rupiah, karena ia berpikir tas tersebut adalah tas miliknya. Karena kesamaan warna dan bentuk persis sama seperti miliknya.
•       Budi mencuri karena dia seorang kleptoman.
Budi mengambil tas berisikan uang milik orang lain, tapi ia menerima kelainan jiwa yang disebut “kleptomani”, yaitu ia mengambil tas tersebut karena paksaan batin untuk mencuri.
-          Tingkat-Tingkat Tanggung Jawab
Tanggung jawab kolektif bukan tanggungjawab secara pribadi, tetapi semuanya bertanggung jawab sebagai kelompok.            
                      Tanggungjawab pribadi, berarti kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan.

Etika komunikasi dan Tanggung-Jawab muatan pesan dan Batas Kebebasan Media/Pers

Kebebasan pers adalah kebebasan yeng bertanggung jawab terhadap Tuhan, manusia, keadilan dan peradaban, persatuan dan kesatuan bangsa, serta terhadap kesejahteraan masyarakat. Kebebasan ini diberikan agar masyarakat dapat mendapatkan informasi dan memperoleh informasi. Pers yang bebas pada era demokrasi saat ini, bukan bebas yang berarti sebebas-bebasnya. Bebas dalam konteks ini dapat diartikan terbebas dari segala tekanan, paksaan atau penindasan dari pihak manapun termasuk pemerintah negara atau pihak-pihak tertentu.
Dengan demikian, pers dapat bebas dan berekspresi tanpa tekanan dan paksaan dari pihak manapun tetapi tidak mengabaikan etika, nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku, serta memegang teguh kode etik jurnalistik sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.

Regulasi Publik dan Prosedural

Regulasi yang ada dalam mengatur pers di Indonesia tercipta karena adanya etika yang harus diperhatikan. Hal ini terumuskan dalam kode etik jurnalistik.  Kode etik jurnalistik sebenarnya adalah rambu-rambu untuk menghindarkan wartawan dari kesalahan yang tidak perlu terjadi dalam melakukan kerja jurnalistik, baik yang berupa penyajian berita secara tidak seimbang atau negatif.


Media Baru dan Kebebasan Berekspresi Media/ Pers dan Individu

Adhyra Ramadiani 14140110360

Media Baru dan Kebebasan Berekspresi Media/ Pers dan Individu

Saat ini, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi kian pesat. Hal ini menyebabkan manusia dapat semakin terhubung, serta mendapatkan informasi dari berbagai sumber dengan mudah. Berdasarkan hasil data riset, masyarakat Indonesia memiliki total populasi, 259 juta. Dengan 88,1 juta dari total penduduk adalah pengguna internet. Selain itu, 79 juta di antaranya adalah pengguna media  sosial, Jakarta sampai dikatakan sebagai pengguna twitter nomor satu di dunia. Kemudian, 64,1 juta di antaranya pengguna mobile internet.
Media baru sangat terlihat memiliki peran yang kuat dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Hal ini menimbulkan makin terbukanya kebebasan dalam berekspresi, tidak hanya media saja, tetapi juga para individunya. Baik melalui blog, facebook, twitter ataupun media baru lainnya, pewarta warga (citizen journalism) terus berdampingan dengan media mainstream dalam menyampaikan informasi terhangat kepada publik.
Seperti saat kasus bom sarinah, Januari 2016 lalu. Media baru menjadi salah satu pembuka informasi bagi masyarakat di berbagai tempat. Semua orang menjadi tahu mengenai kejadian yang membuat gempar masyarakat saat itu. Melalui media baru juga kebebasan berekspresi juga berkembang, yaitu saat terciptanya hashtag di berbagai sosial media, #JAKARTABERANI  atau #INDONESIABERANI. Gerakan ini membuat kesan positif  yang berani bagi masyarakat Indonesia dalam melawan adanya terorisme atau ancaman semacam itu.


Media, Pelayanan Publik dan Logika Politik; Tanggungjawab Sosial dan Tekanan Ekonomi

Adhyra Ramadiani 14140110360
Media, Pelayanan Publik dan Logika Politik; Tanggungjawab Sosial dan Tekanan Ekonomi


Tekanan Ekonomi dan Tanggungjawab Sosial Media

Media yang ada saat ini tengah berlomba-lomba untuk menampilkan tayangan yang kreatif dan dapat menarik perhatian audiens. Hal tersebut merupakan salah satu pemasukan yang besar bagi perusahaan media, khususnya dalam bidang periklanan. Media akan memperhitungkan berbagai strategi untuk meraup keuntungan yang banyak sehingga elemen jurnalistik kini mulai terlupakan. Hal ini tentu menjadi pertanyaan karena adanya tanggung jawab sosial bagi media untuk mengutamakan kepentingan masyarakat bukan kepentingannya sendiri.

Pelayanan Publik, Tanggungjawab Publik dan Logika Politik Media

Media merupakan alat untuk pelayanan publik. Definisi pelayanan publik adalah semua kegiatan yang pemenuhannya harus dijamin, diatur, dan diawasi oleh pemerintah karena pemenuhannya diperlukan untuk pewujudan perkembangan ke saling tergantungan sosial, pada hakikatnya, pewujudannya sulit terlaksana tanpa campur tangan kekuatan pemerintah. Oleh sebab itu media memiliki tanggungjawabnya kepada publik karena perannya sebagai pelayanan.
            Logikanya saat ini politik saat ini dipenuhi dengan kebohongan dan banyaknya manipulasi dalam menyampaikan kepentingan politiknya. Kemunculan adanya pencintraan bagi para politisi mendominasi dunia media. Maka dari itu, media kini harus tetap dapat menjaga independensinya dalam menyampaikan informasi.

Neoliberalisme sebagai Kekuatan Ekonomi Baru
Perkembangan menuju neoliberalisme saat ini dijadikan sebuah patokan untuk dapat memahami berbagai masalah, terutama pada bidang ekonomi. Gagasan ini bukan hanya mengatur model kegiatan dari antar manusia, melainkan juga hubungan internasional. Seperti kemunculan perusahaan multinasional, revolusi bidang tenologi komunikasi, dan lainnya. Gagasan neoliberalisme menghapuskan regulasi tegang pada industri media.

Isu Ekonomi versus Moral dalam Kepentingan Media

Ekonomi dan moral dalam kepentingan media tentu menjadi isu yang hangat diperbicangkangkan. Dikarenakan adanya pemegang kekuasaan dalam suatu struktur media, maka seringkali media dijadikan sebuah ajang untuk meraup keuntungan bagi pemilik. Di satu sisi media sendiri memiliki peran untuk menyampaikan kepentingan masyarakat.
Hal ini disebabkan karena adanya komodifikasi, Masco(1996), mengidentifikasi empat bentuk, yaitu sebagai berikut.
1.     Komodifikasi Isi, proses pengubahan pesan dan data ke dalam sistem makna sehingga menjadi produk yang dapat disebarkan
2.     Komoditi Khayalak,  proses media dalam menghasilkan khalayak yang berfungsi untuk menarik pengiklan.
3.     Komodifikasi Cybernets
4.     Komodifikasi Tenaga Kerja, digunakan teknologi untuk memperluas proses sehingga dapat menghasilkan barang dan jasa.

Media dan Konflik Kepentingan
           

            Saat ini media sudah identik dengan konflik kepentingan. Dikarenakan banyaknya tayangan yang didominasi dengan para pemegang kepentingan tersebut. Ini juga terlihat dari kemunculan konglomerasi media, di mana media dapat dijadikan bisnis besar dan beberapa media dapat dipegang oleh satu orang saja. Ini membuat pesan-pesan yang disampaikan terkadang sudah disisipkan ideologi yang dimiliki oleh pemilik.

Privasi dan Kerahasiaan/ Konfidentialitas dalam Etika Komunikasi dan Kepentingan Umum

Adhyra Ramadiani 14140110360

Pengertian Privasi dan Konfidensialitas
Konfidensialitas adalah sebuah status atau keadaan dimana hal-hal tertentu menjadi tertutup bagi pihak-pihak yang tidak seharusnya memiliki akses dan meliputi semua hal yang bersifat lisan maupun tulisan mengenai suatu hal yang terjadi sebelumnya ataupun yang yang direncanakan.
Privasi sebagai hak untuk dibiarkan atau untuk mengontrol publikasi yang tidak diinginkan tentang urusan personal seseorang.

Privasi dan Konfidensialitas sebagai Nilai
Ada 5 hal yang menjadi alasan mengapa konfidensialitas merupakan nilai yang harus dijaga :
-          Kemampuan untuk menyimpan rahasia merupakan perwujudan otonomi individu
-          Setiap orang butuh ruang pribadi. Konfidensialitas mewujudkan ruang pribadi.
-          Konfidensialitas menumbuhkan rasa saling mempercayai.
-          Konfisedsialitas penting untuk mencegah tindakan menyakiti orang lain.
-          Konfidensialitas merupakan sarana untuk mewujudkan tujuan kelompok sosial.

Problematika Privasi dan Konfidensialitas
-          Konfidensialitas dapat dilanggar, kecuali dalam praktik jurnalisme.
-          Pers atas alasan apapun tidak boleh melanggar konfidensialitas.
-          Hal ini akan menjatuhkan kredibilitas media
-          Khusus untuk wartawan, jika Ia memegang konfidensialitas maka apa yang dipublikasikan menjadi tanggung jawab wartawan tersebut.
-          Walaupun kemudian terkena sanksi maka hal tersebut merupakan resiko dari sebuah profesi.

Konfidentialitas dan kepentingan umum
-          Konfidensialitas hanya boleh dilanggar bila untuk kepentingan publik
-          Namun, dalam ranah jurnalistik konfidensialitas tidak boleh dilanggar sedikitpun
-          Bila dilanggar maka akan dikenakan sanksi hukum karena bisa menjatuhkan kredibilitas pers dan media

Mengapa konfidensialitas harus dijaga?
-          Kemampuan untuk menyimpan rahasia adalah perwujudan otonomi individu
-          Kerahasiaan merupakan perwujudan ruang pribadi           à private sphere
-          Menumbuhkan rasa saling percaya
-          Penting untuk menjaga keselamatan dan keamanan narasumber

-          Merupakan sarana untuk mewujudkan tujuan kelompok sosial

Manipulasi Media dan Kesadaran palsu, Pornografi dan Kekerasan, serta Propaganda dalam Media/Pers

Adhyra Ramadiani 14140110360

Seorang jurnalis haruslah memberikan informasi dengan sebenar-benarnya. Namun, saat ini pers sering menampilkan berita yang memiliki kesan negatif sehingga isu yang ditampilkan tentu harus dikaji dan dipertanyakan sekali lagi. Hal-hal negatif ini berputar pada masalah manipulasi media dan kesadaran palsu, pornografi, kekerasan, dan propaganda.
Dikarenakan hal tersebut, tentu masyarakat dituntut harus untuk memahami tentang peran, fungsi, dan kekuasaan media yang ada. Masyarakat harus mengetahui bahwa pers memiliki peran untuk membebaskan rakyat untuk menyuarakan pendapatnya dan tidak boleh sampai terbelenggu dengan kebohongan media yang tercipta.  

Proses kerja Media/Pers dalam Manipulasi dan Menciptakan Kesadaran Palsu di Masyarakat/Publik
Media kini seringkali melakukan manipulasi dan menciptakan kesadaran palsu pada masyarakat dan publik. Hal ini digunakan untuk membangun perspektif audiens, seperti kemunculan kampanye politik. Gambaran ini ditampilkan dalam bentuk kebahagiaan, gaya hidup modern, dan hal lainnya yang terlihat baik.

Pornografi
            Pornografi merupakan aktivitas seksual atau hal yang tidak senonoh, yang ditujukan untuk publik. Pornografi dianggap dapat menimbulkan rangsangan seksual sehingga mendorong perilaku yang membahayakan dan merugikan.
Terdapat banyak argumen yang menolak pornografi, seperti perlindungan terhadap orang muda atau anak-anak, untuk mencegah perendahan martabat perempuan, dan mencegah sifat subversifnya yang cenderung menghancurkan tatanan nilai seksual keluarga dan masyarakat.
Pornografi menjadi sesuatu yang rumit disebabkan oleh adanya masalah kebebasan berekspresi, terutama bila mengandung nilai seni, bagaimana menghadapi hak akan informasi,  dan bagaimana menjamin hak untuk memenuhi pilihan pribadi, bila pilihan ini tidak melukai orang lain bahkan nilai seni dan pendidikannya dianggap meragukan.
Untuk menghadapi masalah yang ditimbulkan oleh pornografi diperlukan beberapa cari, yaitu dengan mempertimbangkan konsepsi umum tentang seni, mempertimbangkan konsepsi moral, perlu diperhitungkan reaksi emosional yang ditimbulkan, dan perlu dipertimbangkan pandangan dari berbagai teori psikologis (catharsis, imitasi, dan pembiasaan)

Erotisme
Menyangkal kemahakuasaan, dalam arti “semua harus kelihatan”, menjadikan keterbatasan kemampuan gambar menjadi celah keberadaan erotisme.  Erotisme gambar berkisah pada waktu dan terbuka terhadap kebaruan serta yang tak teramalkan. Dalam erotisme, yang lebih tampak adalah pengungkapan hasrat daripada penonjolan tubuh yang telanjang. Keindahan dalam erotisme bukan perayaan kenikmatan diri. Semua erotisme selalu berisiko menjadi pornografi.  Namun, pada karya tertentu tidak mudah menentukan batas antara erotisme dan pornografi.




Kekerasan dalam Media/Pers
Kekerasan merupakan perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau kematian orang lainnya baik fisik maupun batin. Menurut Pascal Lardellier, kekerasan sebagai prinsip tindakan yang mendasarkan diri pada kekuatan untuk memaksa pihak lain tanpa persetujuan.
Kekerasan dapat berbentuk dalam kekerasan fisik, verbal, moral, psikologis, dan gambar. Bentuk-bentuk kekerasan tersebut dapat menimbulkan berbagai bahaya, jika ditampilkan melalui media, yaitu meningkatkan perilaku agresif, ketidakpekaan terhadap kekerasan dan penderitaan korban, dan tayangan kekerasan dapat meningkatkan rasa takut sehingga menciptakan pemikiran betapa berbahayanya dunia.
-       Menentukan Batas-Batas Kekerasan
•       Dimensi persepsi
Menetukan batas sejauh mana media menayangkan visual, pendengaran, dan interaktif.
•       Dimensi Afeksi
Sejauh mana kekerasan media menyebabkan traumatisme, kekacauan, kegelisahan, rasa malu.
•       Dimensi Estetika
Mengukur sesuatu dengan keindahan.
•       Dimensi Moral
Mana yang dapat dipercaya dan yang berpengaruh jahat.

-       Jenis-Jenis Kekerasan dalam Media
•       Kekerasan Dokumen
Merupakan tampilan gambar kekerasan yang dipahami pemirsa atau pembaca dengan mata telanjang sebagai dokumentasi atau rekaman fakta kekerasan.
•       Kekerasan Fiksi
Kekerasan yang jauh dari realitas, kekerasan ini masih berpijak dengan dunia riil
•       Kekerasan Simulasi
Biasanya ditemukan dalam sebuah game virtual, dimana pelaku kekerasan merasakan emosi yang meluap dari pengalaman langsung dengan game
•       Kekerasan Simbolik
Biasanya ditemukan dalam iklan, kekerasan tipe ini menggunakan medium bahasa untuk memengaruhi, cara pikir, cara bekerja, dan cara bertindak.

Praktik Propaganda dan Agenda Tersembunyi Media/Pers

Menurut Garth S. Jowett and Victoria O'Donnell, propaganda adalah usaha dengan sengaja dan sistematis, untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan penyebar propaganda. Propaganda dapat disampaikan melalui berbagai macam media, seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, spanduk, dan lain-lain.
Propaganda media merupakan usaha dengan sengaja dan sistematis, dalam pembentukan persepsi, memanipulasi, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan dari orang yang memiliki tujuan tersebut melalui media massa. adalah usaha dengan sengaja dan
-       Jenis-jenis Propaganda
•       White Propaganda
RRI dan TVRI media pemerintah menyampaikan kebijakannya
•       Grey Propaganda
Partai Nasdem menuding Mendagri Gamawan Fauzi perihal kasus E-KTP dan DTP
•       Black Propaganda
Seorang moderator mengatakan pembicara tidak dapat hadir karena diculik BIN.
•       Ratio Propaganda
Sumpah Pemuda, isinya untuk menyatukan para pemuda di seluruh Indonesia

-       Teknik Propaganda
•       Name-calling
Memberi julukan/label buruk pada seseorang, gagasan,orang,lembaga supaya audiens tidak menyukai atau menolaknya.
•       Glittering Generality
Suatu teknik menghubungkan dengan ‘kata yang berkonotasi baik’  dipakai untuk membuat audiens menerima dan menyetujui sesuatu tanpa memeriksa bukti-bukti.
•       Transfer
Teknik membawa otoritas dukungan, gensi dari sesuatu yang dihargai dan disanjung  kepada sesuatu yang lain agar sesuatu yang lain itu lebih dapat diterima.
•       Plain Folks
Teknik ini digunakan oleh pembicara propaganda dalam upaya meyakinkan audiens bahwa dia dan gagasannya bagus karena mereka adalah bagian dari rakyat.
•       Testimonial
•       Teknik  ini memberi kesempatan pada orang yang mengagumi atau membenci untuk mengatakan bahwa sebuah gagasan atau program atau produk atau seseorang itu baik atau buruk.
•       Card Staking
Pemilihan dan pemanfaatan fakta atau kebohongan, ilustrasi atau penyimpangan dan pernyataan –pernyataan logis atau tidak logis untuk memberikan kasus terbaik atau terburuk pada suatu gagasan, program , orang atau produk.
•       Bandwagon

Teknik ini digunakan dalam rangka meyakinkan audiens bahwa semua anggota suatu kelompok – di mana audiens termasuk dalam kelompok tersebut— telah menerima gagasan atau programnya dan oleh karenanya diharapkan audiens sasaran juga segera mengikuti jejaknya.

Media Literacy (Melek Media) dan Tanggungjawab Individu dalam Bermedia

Adhyra Ramadiani 14140110360

Media Literacy (Melek Media) dan Tanggungjawab Individu dalam Bermedia


Memahami Melek Media/Media Literacy

Media Literacy atau melek media adalah suatu istilah yang digunakan sebagai jawaban atas maraknya pandangan masyarakat tentang pengaruh dan dampak yang timbul akibat isi (content) media massa; dimana cenderung negatif dan tidak diharapkan. Sehingga perlu diberikan suatu kemampuan, pengetahuan, kesadaran dan keterampilan secara khusus kepada khalayak sebagai pembaca media cetak, penonton televisi atau pendengar radio. 

Pentingnya Media Literacy

  • untuk melihat sebuah hal
  • untuk melihat apa yang dilihat yang lain
  • untuk belajar dari sesuatu
  • untuk bertindak atas apa yang dipelajari
Isu-Isu dalam Media Literacy

  •  “Apakah media itu?”
  •  “Apa yang kita maksud dengan literasi?”
  • “Apa yang seharusnya menjadi tujuan dari literasi media?”
Mengembangkan Kemampuan Media Literacy/Melek Media

Menurut James Porter dalam Rahayu (Media Literasi Agenda “Pendidikan” Nasional yang Terabaikan), berikut tahapan untuk mengembangkan kemampuan literasi media
a.      Explore, keahlian untuk memilih informasi yang dibutuhkan.
b.     Recognize Symbols, keahlian untuk indentifikasi simbol tertentu
·     Message Focused (menafsirkan makna pesan)


·     Message Extending Skill (menjelaskan dan menyimpulkan pesan)

Senin, 11 April 2016

Mengapa Perlu Etika Komunikasi?

Kemajuan informasi kini benar-benar memberikan pencerahan terhadap kehidupan. Informasi menjadi sarana bagi pendidikan yang efektif. Media merupakan sarana utama untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi. Sumbangan media terhadap pendidikan sangatlah tinggi. Namun, hak untuk memperoleh informasi tersebut terkadang tidak terjamin keakurasiannya dikarenakan terdapat pertarungan kepentingan dalam hal politik, ekonomi, dan budaya.

Informasi dijadikan sebagai komoditas, atau pemikirannya lebih mengarah terhap indsutri. Informasi kini dapat dijadikan produk untuk perdagangan. Seperti, infotainment dapat dilihat sebagai sosok media yang didominasi oleh pasar dan keuntungan. Bagi kebanyakan pimpinan saat ini, pasar informasi yang utama adalah keuntungan. Siapa yang cepat, ia lah yang paling up-to-date sehingga tidak melakukan verifikasi dan proses pengeditan sama sekali. 

Gairah yang tiba-tiba terlihat di media dan mendorongnya(seperti urgent), bergegas untuk meliputi kejadi karena media lain, yang menjadi acuan, sehingga peliput tersebut menganggapnya penting disebut sebagai mimetisme. Ini dapat menjadikan kesesatan berpikir bagi audiens yang tingkat literasinya rendah. Mereka akan menganggap bahwa berita yang paling banyak diberitakan adalah suatu informasi yang penting. 

Hal tersebut menyebabkan media menjadi sorotan reaksi skeptis bagi para kaum terdidik karena hilangnya rasa percaya terhadap suatu media. Pada media televisi, rating akan menentukan program siaran tersebut tinggi atau tidak, dan hal tersebut akan berpengaruh terhadap spot iklan yang akan dijual media tersebut. Akhirnya, dinamisme media akan terlihat sebagai sesuatu yang komersial dan hanya mementingkan makna keindahan saja. 

Sistem media seperti itu dapat membawa perubahan terhadap beberapa hal, seperti integrasi sosial, reproduksi budaya, dan partisipasi politik. Integrasi sosial dapat menghadapi kendala terhadap banyak individu yang narcisik, hedonistik. Sifat individu tersebut dapat menjadikan masyarakat yang tidak peduli akan kontrol sosial sehingga norma pun meredup. Dalam reproduksi budaya, tekanannya adalah budaya yang harus terus bergerak dalam sistem baru tersebut agar budaya tersebut dapat mempertahankan dirinya. Partisipasi politik tidak akan didasari oleh ideologi politik lagi karena ideologi tersebut tidak lagi mampu memberikan jaminan lagi. Sebenarnya, politisi saat ini sedang menghadapi masyarakat yang konsumeris, individualis, mudah berubah pandangan, dan skeptis. 

Sistem media juga ditentukan oleh kemajuan teknologi. Media elektronik dan komputer dengan internet membuat informasi dan proses pertukarannya menggunakan waktu yang singkat. Hal ini juga membuat media massa konvensional memiliki kecemasan. Pada satu sisi, media massa ingin mempertahankan idealismenya sebagai sarana pendidikan agar pembaca, pemirsa, dan pendengar untuk kritis dan menggunakan pendalaman pemikiran. Namun, pragmatisme ekonomi memaksa media untuk menerapkan logika mode spektakuler, sensasional, superfisial, dan pesan beragam. Hal ini menyebabkan media menjadi lebih ingin cepat saji sehingga terkadang tidak mementingkan nilai beritanya. 

Media di satu sisi sudah berhasil memperoleh kebebasannya. Namun, di satu sisi ada nilai-nilai kurang baik yang ingin disampaikan dan memanfaatkan media untuk menyebarkannya. Pada awalnya, media menjadi harapan untuk menjadi pelopor atau penerang budaya yang berkualitas, tetapi kini pemberitaan tidak berkualitas menjatuhkan media. Bahkan, iklan kini juga ikut bermain dalam mempengaruhi cara berpikir seseorang. Jika dulu imbauan "Dilarang Merokok!" gencar diberitahukan, kini menjadi nasihat "Merokok bisa merugikan kesehatan, loh!" yang menciptakan persepsi bahwa merokok tidak apa-apa asal tidak terlalu sering. Lagi-lagi hal tersebut dikarenakan keuntungan yang menjadi hal utama media saat ini, karena media juga suatu perusahaan, kan? Namun, ini hanya obsesi media semata yang perlu dilihat lagi siapa dalangnya. 

J. Baudrillard(1981), menjelaskan empat fase pencitraan, yaitu represensasi citra merupakan cermin realitas, ideologi citra menyembunyikan dan memberikan gambar yang salah tentang realitas, citra menyembunyikan realitas, dan citra tidak ada hubungannya sama sekali dengan realitas. Media yang mengandalkan operasinya terhadap pencitraan, informasinya akan berkualitas rendah.

Pada masa ini, sensor bukan hal primer bagi media. Wartawan di era demokrasi tidak dilarang untuk membatasi infromasinya. Sensor kini bersembunyi dibalik aspek ekonomi dan komersialismenya. Etika komunikasi kini memiliki banyak yang harus diperhatikan.

Etika komunikasi harus diterapkan dalam pertimbangan masalah media pada masa ini adalah etika komunikasi dapat melindungi publik yang lemah dikarenakan media kini mempunyai kekuasaan dan efek yang kuat bagi publik. Kemudian, etika komunikasi dapat menjadi penyeimbang antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab, seperti mengingatkan para wartawan agar tetap kritis dalam suatu media komersial. Etika komunikasi juga dapat dijadikan acuan untuk menghindari dampak negatif dari logika instrumental yang suka mengabaikan nilai dan makna. 

Komunikasi ada baiknya dapat berupaya untuk mencapai tujuan demi kesepahaman dan menggerakkan potensi rasionalitasnya agar dapat memenuhi tiga pendekatan kebenaran, yaitu kebenaran pernyataan, ketepatan rumusan tindakan yanglegitim dan konteks normatifnya, serta ketulusan komunikasi pengalama yang dihayati secara subyektif. Pertama, pernyataan yang dibuat benar jika isinya benar dalam proposisi. Kedua, bahasa tepat jika sesuai dengan konteks normatif. Ketiga, maksud yang diungkapkan benar-benar sesuai dengan apa yang dipikirkannya.

ADHYRA RAMADIANI
14140110360



Filsafat, Etika, dan Komunikasi



Etika merupakan nilai-nilai atau norma yang menjadi pegangan seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Etika mengandung tida pengertian pokok, yaitu ilmu tentang apa yang baik dan kewajiban moral, kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, dan nilai mengenai benar atau salah yang dianut oleh suatu golongan/masyarkat. Sifat dasar etika sendiri adalah sifat kritis sehingga etika memiliki tugas untuk mempersoalkan norma yang ada, mempertanyakan mengenai legitimasinya, mempersoalan hak setiap lembaga yang ada, memberikan bekal kepada manusia dalam pengambilan sikap rasional, serta alat pemikiran yang rasional dan bertanggung jawab bagi seorang ahli dan bagi yang siapapun yang tidak ingin dipusingkan oleh norma.
              Etika dapat disebut juga sebagai filsafat moral. Etika termasuk cabang filsafat yang membahas tentang tindakan manusia dalam kaitannya dengan tujuan utama hidup. Ia membahas baik-buruk atau benar-tidaknya tingkah laku dan tindakan manusia. Etika dibagi menjadi dua, yaitu etika deskriptif dan etika normative. Etika deskriptif memberi gambaran dari gejala kesadaran moral, dari norma dan konsep etis. Etika normatif membicarakan mengenai apa yang sebenarnya tindakan manusia. Filsafat merupakan seperangkat keyakinan dan sikap, cita-cita, aspirasi dan tujuan, nilai dan norma, aturan dan prinsip etis. Menurut Hook, filsafat juga pecari kebenaran mengenai nilai dan perimbangan nilai agar menjadi benar dan mengetahui apa yang buruk juga. Itu lah yang membuat filsafat dapat dikaitkan dengan etika.
              Perbedaan Etika dan Etiket
Etika
Etiket
Cara perbuatan yang harus dilakukan seseorang
Memberikan dan menunjukkan cara yang tepat
Berlaku dimana-mana
Berlaku di pergaulan sosial
Bersifat Mutlak
Bersifat relatif
Berkaitan dengan aspek internal manusia
Segi lahiriah

Perbedaan Etika dan Estetika
Etika
Estetika
Menitikberatkan pada baik-burut / benar-tidak
Mempermasalahkan seni/keindahan yang diproduksi manusia
Berkaitan dengan dasar tindakan manusia baik-buruk atau benar-salah
Estetika deskriptif(menjelaskan/melukiskan pengalaman indah) dan estektika normatif(menyelidiki hakikat, dasar, dan ukuran pengalaman keindahan)
Fokus perhatian
Imitasi atau reproduksi realitas

Perbedaan Moral dan Hukum
Hukum
Moral
Objektif
Subjektif
Ruang lingkupnya pada tingkat lahiriah manusia
Perilaku batin
Sanksi dipaksakan, didasarkan oleh masyarakats
Sanksi batin, tidak dapat dicampuraduk oleh masyarakat

Perbedaan Etika dan Agama
Etika
Agama
Berdasar argumen rasional
Argumen berdasar wahyu Tuhan dan ajaran agama

Perbedaan Etika dan Moral
Etika
Moral
Ilmu tentang baik-buruk
Sifat moral atau keseluruhan asas atau nilai yang berkenaan dengan baik-buruk (kaidah sikap baik dan keadilan)

Unsur pokok dalam etika adalah kebebasan, tanggung jawab, hati nurani, dan prinsip-prinsip moral dasar. Kebebasan merupakan unsur pokok dalam wacana etika, tanggung jawab merupakan kemampuan individu untuk menjawab segala pertanyaan dengan fakta, hati nurani merupakan penghayatan mengenai nilai baik-buruk, dan kesadaran moral merupakan tattaran yang berguna untuk memosisikan tindakan individu dalam nilai moral tertentu.
Pemikiran-pemikiran yang tercipta memunculkan pandangan yang banyak juga terhadap etika itu sendiri, seperti egoisme, deontologisme, utilitarianisme, dan pragmatisme. Egoisme merupakan pemikiran etis yang menyatakan bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang memiliki manfaat bagi diri sendiri dalam jangka waktu tertentu. Deontologisme merupakan pemikiran etis mengenai baik buruk tindakan tidak diukur dari akibat yang ditimbulkan, tetapi berdasarkan sifat dari hasil yang tercapai. Utilitarianisme merupakan pemikiran etika terhadap kaidah moral dan baik-buruknya tindakan diukur dari akibat yang ditimbulkan. Pragmatisme merupakan pemikiran yang menyatakan perbuatan etis berhubungan dengan soal pengetahuan praktis yang dilakukan demi kemajuan masyarakat dan dunia.

Etika komunikasi digunakan untuk mengontrol kesadaraan etis bagi komunikator. Tujuh prespektif yang dapat etika komunikasi bahas adalah politik, sifat manusia, dialogis, situasional, religius, utilitarian, dan legal. 

ADHYRA RAMADIANI
14140110360

Komunikasi Sebagai Proses Simbolis


Setiap komunikasi yang terjadi dapat menimbulkan interpretasi atau makna yang berbeda-beda. Hal ini sempat dibahas dalam teori simbolis interaksionisme. Teori ini merupakan cara menginterpretasikan dan memberi makna pada lingkungan di sekitar melalui cara kita berinteraksi dengan orang lain. Perspektif teori ini mendasarkan pandangannya terhadap asumsi manusia mengembangkan simbol kompleks untuk memberi makna mengenai dunia. Makna tersebut muncul dari lingkungannya. Lingkungan yang paling berpengaruh adalah keluarga.
            Istilah pokok teori simbolis interaksionisme ini adalah identitas, bahasa, cara melihat diri, makna, pikiran, peran, konsep diri, dan harapan untuk pemenuhan diri. Identitas merupakan pemaknaan diri dalam pengambilan peran, bahasa merupakan sistem simbol yang digunakan sesame anggota kelompok sosial, cara melihat diri kita merupakan gambaran mental hasil dari mengambil peran orang lain, makna adalah tujuan dan atribut dari sesuatu, pikiran adalah proses mental yang terdiri dari self, interaksi, dan refleksi, peran adalah kemampuan untuk melihat diri seseorang sebagai objek sehingga terdapat gambarannya dalam melihat orang lain, konsep diri adalah gambaran diri kita yang terbentuk sejak kecil dari interaksi yang terjadi, serta harapan untuk pemenuhan diri adalah tekanan dari ekspetasi kita untuk memunculkan respon dari orang lain.
            Mead sebagai bapak interaksionime ini merangkum konsep pokok mengenai mind, self, dan society. Mind didefinisikan sebagai fenomena sosial yang berkembang dalam proses sosial sebagai hasil dari interaksi. Mind dapat meningkatkan kapasitas untuk menentukan onjek, menggunakan simbol sebagai stimulus/respon, membaca dan menginterpretasikan gesture, dan menyediakan imajinasi alternatif. Kemudian, konsep mengenai self dipahami sebagai proses yang tumnbuh dalam keseharian sosial yang membentuk identitas diri dengan menggunakan role-taking. Esensi self bagi mead adalah ‘I’ dan ’Me’, ‘I’ merupakan bagian unik yang tidak direncanakan ada dalam diri kita(perempuan/laki-laki). Sedangkan, ‘Me’ merupakan persepsi diri kita dari orang lain. Konsep yang terakhir adalah Society, ini merupakan kumpulan self yang melakukan interaksi dalam lingkungan luas(bisa dalam personal, kelompok intim, dan komunitas).
            George Herbert Blumer juga menyampaikan pemikirannya tentang teori interaksionisme simbolis melalui tiga dasar pemikiran, yaitu manusia berperilaku berdasarkan makna yang dimilikinya, makan tersebut tercipta dari interaksi sosial, makna tersebut dikelola melalui proses penafsiran. Ia juga memiliki konsep mengenai meaning, language, dan thought. Meaning baginya merupakan dasar bagi kita untuk bertindak, language merupakan makna yang tumbuh dalam interaksi sosial yang berbeda-beda, dan thought berarti interpretasi individu atas simbol yang dimodifikasi melalui proses berpikir seseorang.  Konsep pokok Blumer terhadap teori ini adalah konsep diri, konsep kegiatan, konsep objek, konsep interaksi sosial, dan konsep aksi bersama(kegiatan kolektif yang muncul akibat penyesuaian).


ADHYRA RAMADIANI 
14140110360