Tampilkan postingan dengan label Dahlia Suhendra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dahlia Suhendra. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2016

Dilema Regulasi Publik Kebebasan Berekspresi dan Tanggung Jawab



Dilema Regulasi Publik Kebebasan Berekspresi dan Tanggung Jawab

Media membantu masyarakat dalam mendapatkan informasi, tetapi sekaligus mempengaruhi dalam pembentukan opini. Informasi selalu sudah merupakan interpretasi. Regulasi menjadi sangat penting karena kecenderungan melemahnya pemaknaan realitas. Ketidakpedulian makna ini tidak lepas dari tekanan atau obsesi pada teknik presentasi hingga mengorbankan pesan pokok.

 Dalam praktek jurnalistrik, tradisi moral deontology lekat mengarahkan para pelaku komunikasi.  Etika teologi ini mengandaikan adanya pengkondisian, maksudnya elaborasi dan presentasi informasi ditentukan oleh tujuan yang sering dipaksakan dari luar.
Kebebasan berekspresi di Indonesia saat ini cukup baik, namun banyak dari pemilik dari stasiun TV dan juga pemerintah yang memanfaatkan dari informasi yang disampaikan para penulis untuk mendapatkan keuntungan individual.

















Dahlia Suhendra 14140110215

Media Literasi



Media Literasi
Literasi adalah kemampuan seseorang individu untuk membaca dan menulis yang ditandai dengan kemampuan memahami pernyataan singkat yang ada hubungannya dengan kehidupannya. Literasi tidak hanya didefinisikan sebagai kemampuan membaca dan menulis tetapi juga kemampuan menempatkan, mengevaluasi, menggunakan dan mengomunikasikan melalui berbagai sumber daya termasuk teks, visual, suara , dan video.

Dengan literasi orang bisa meningkatkan harkat, mertabat dan perannya di tengah masyarakat. Literasi yang ada saat ini adalah literasi media dan literasi informasi , mengembangkan dan mengubah respons terhadap perubahan sosial budaya. Literasi media memang mengasumsikan tidak setiap informasi yang disajikan, disiarkan atau ditayangkan ditubuhkan dan bermanfaat bagi masyarakat.



















Dahlia Suhendra 14140110215

Kepentingan, Tekanan Ekonomi, dan Tanggung Jawab Sosial



Tekanan ekonomi mempengaruhi komunikasi yang dilakukan. Tanggung jawab sosial sering dikalakan oleh kepentingan ekonomi.
Tiga sumber tekanan ekonomi :
1.       Pendukung finansial; inverstor, pemilik, pemasang iklan dan pelanggan.
2.       Para pesaing
3.       Masyarakat/ public secara umum.

Semua media berlomba-lomba membuat tayangan yang kreatif dan menarik perhatian para konsumen. Ekonomi sebagai kunci untuk memahami dan mendekati berbagai masalah, penggusuran arena hidup sosial menjadi urusan individu dan pemindahan regulasi dari arena sosial ke urursan personal.

3 pendorong munculnya neoliberalisme
1.       Berkembangnya perusahaan multinasional
2.       Munclnya rezim internasional yang berfungsi sebagai surveillance system
3.       Revolusi di bidang teknologi komunikasi dan transportasi

Gelombang neoliberalisme ditandai dengan upaya penghapusan regulasi negara atas industri media, walaupun dari satu sisi memang telah membebaskan media dari kontrol negara, namun pada sisi lain akan memperbesar kerentanan media terhadap repsresi rejim capital.
Tanggung jawab sosial adalah kemampuan manusia yang menyadari bahwa seluruh tindakannya selalu mempunyai konsekuensi.

Dalam filsafat kebebasan adalah kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Kebebasan lebih bermakna positif dan ia ada sebagai konsekuensi dari adanya potensi manusia untuk dapat berpikir dan berkehendak. Sedangkan tanggung jawab menurut filsafat adalah kemampuan manusia yang menyadari bahwa seluruh tindakannya selalu mempunyai konsekuensi. Perbuatan tidak bertanggung jawab adalah perbuatan yang didasarkan pada pengetahuan dan kesadaran yang seharusnya dilakukan tapi tidak dilakukan juga.

Terdapat 5 jenis tanggung jawab sosial yang dikehendaki oleh masyarakat modern dari media, yaitu,
1.       Media harus menyajikan pemberitaan yang benar, komprehensif dan cerdas
2.       Media harus berperan sebagai forum pertukaran pendapat, komentar dan kritik.
3.       Media harus menyajikan gambaran khas dari setiap kelompok masyarakat
4.       Mediaharus selalu menyajikan dan menjelaskan tujuan dan nilai-nilai masyarakat.
5.       Media harus membuka akses ke berbagai sumber informasi.


Privasi dan Kerahasiaan



Privasi adalah hak untuk dibiarkan atau hak untuk mengontrol publikasi yang tidak diinginkan tentang urusan personal seseorang. Privasi penting karena memberikan kemampuan untuk menjaga informasi pribadi yang bersifat rahasia sebagai dasar pembentukan otonomi individu. Privasi dapat melindungi dari cacian dan ejekan orang lain khususnya dalan masyarakat dimana toleransi masih rendah dan gaya hidup maupun tingkah laku aneh tidak diperkenankan. Privasi adalah mekanisme untuk mengontrol reputasi seseorang dan perangkat bagi berlansungnya interaksi sosial. Dan yang terakhir, privasi merupakan benteng dari kekuasaan pemerintah.

Konfidensialitas adalah sebuah status atau keadaan dimana hal-hal tertentu menjadi tertutup bagi pihak-pihak yang tidak seharusnya memiliki akses dan meliputi semua hal yang bersifat lisan maupun tulisan mengenai suatu hal yang terjadi sebelumnya ataupun yang yang direncanakan

Ada 5 hal yang menjadi alasan mengapa konfidensialitas merupakan nilai yang harus dijaga :
ž  1.Kemampuan untuk menyimpan rahasia merupakan perwujudan otonomi individu
ž  2.Setiap orang butuh ruang pribadi. Konfidensialitas mewujudkan ruang pribadi.
ž  3.Konfidensialitas menumbuhkan rasa saling mempercayai.
ž  4.Konfisedsialitas penting untuk mencegah tindakan menyakiti orang lain.
ž  5.Konfidensialitas merupakan sarana untuk mewujudkan tujuan kelompok sosial.




Manipulasi Media dan Kesadaran Palsu



Manipulasi Media dan Kesadaran Palsu
Proses kerja seorang jurnalis yaitu untuk memberikan informasi yang benar tentang kehidupan masyarakat. Akan tetapi, pers pada masa yang modern ini sering menghadirkan berita yang negatif dan bias. Oleh karena itu, kepercayaan publik terhadap suatu isu perlu dipertanyakan.  Pada zaman sekarang, televisi menjalankan peran yang tidak seharusnya. Sebagai alat pembuat “image”, dan yang lebih parah lagi untuk menjalankan kepentingan pribadi.

Masyarakat sebenarnya harus mengerti peran, fungsi dan kekuasaan media. Pers mempunyai tujuan yaitu membebaskan masyarakat, mengilhami gerak suara hati, menembus kabut politik, muncul kesadaran untuk mengonstruksi tatanan sosial. 

Media melakukan manipulasi melalui iklan, karena iklan dapat membangun perspektif audience. Contoh : Kampanye politik, banyak hal yang sengaja dibuat ambigu.
Melalui media massa, kekuasaan dapat menghemoni masyarakat. Kekuasaan juga mempunyai ideologi tertentu, media massa dijadikan alat untuk mensosialisasikan ideologi tersebut. Media massa menjadi tempat pertarungan berbagai kepentingan di masyarakat. Oleh karena itu, banyak tayangan yang tidak berbobot, penonton tidak diajak untuk berpikir dan media massa juga rentan dimanfaatkan oleh pemegang saham.

Pornografi adalah aktivitas seksual atau hal yang tidak senonoh, mesum atau cabul yang dimaksud untuk dikomunikasikan pada publik. Akan tetapi, representasi publik tentang pornografi tidak bisa dikatakan relative
Penyebab pornografi dapat terjadi :
  1. Berhadapan dengan masalah kebebasan berekspresi, terutama bila mengandung nilai seni.
  2. Bagaimana menghadapi hak akan informasi.
3.      Bagaimana menjamin hak untuk memenuhi pilihan pribadi, bila pilihan ini tidak melukai orang lain bahkan nilai seni dan pendidikannya dianggap meragukan
Erotisme
1.       Menyangkal kemahakuasaan, dalam arti “semua harus kelihatan”, menjadikan keterbatasan kemampuan gambar menjadi celah keberadaan erotisme.
2.       Erotisme gambar berkisah pada waktu dan terbuka terhadap kebaruan serta yang tak teramalkan.
3.       Dalam erotisme, yang lebih tampak adalah pengungkapan hasrat daripada penonjolan tubuh yang telanjang.

Kekerasan dalam Media dan Pers
kekerasan ke.ke.ras.an
[n] (1) perihal (yg bersifat, berciri) keras; (2) perbuatan seseorang atau kelompok orang yg menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain; (3) paksaan

Bentuk kekerasan
1       Fisik (menendang , memukul)
2       Verbal (menyebut nama seseorang dengan SARA)
3       Moral (menjauhi teman / mengucilkan teman)
4       Psikologis ( mendiamkan teman)
5       Gambar ( memposting kekerasan di media sosial)

Kekerasan dalam Media
  1. Merepresentasikan program kekerasan, meningkatkan perilaku agresif.
  2. Memperlihatkan tayangan kekerasan secara berulang dapat menyebabkan ketidakpekaan terhadap kekerasan dan penderitaan korban.
  3. Tayangan kekerasan dapat meningkatkan rasa takut sehingga menciptakan pemikiran betapa berbahayanya dunia.
Jenis-Jenis Kekerasan
1.       Kekerasan Dokumen
Merupakan tampilan gambar kekerasan yang dipahami pemirsa atau pembaca dengan mata telanjang sebagai dokumentasi atau rekaman fakta kekerasan.
2.       Kekerasan Fiksi
Kekerasan yang jauh dari realitas, kekerasan ini masih berpijak dengan dunia riil.
3.       Kekerasan Simulasi
Biasanya ditemukan dalam sebuah game virtual, dimana pelaku kekerasan merasakan emosi yang meluap dari pengalaman langsung dengan game.
4.       Kekerasan Simbolik
Biasanya ditemukan dalam iklan, kekerasan tipe ini menggunakan medium bahasa untuk memengaruhi, cara pikir, cara bekerja, dan cara bertindak.

Menurut Garth S. Jowett and Victoria O'Donnell
•       Propaganda adalah usaha dengan sengaja dan sistematis, untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan penyebar propaganda.
     Propaganda media adalah usaha dengan sengaja dan sistematis, untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan yang disebarkan melalui media massa. Sedangkan media propaganda adalah media yang digunakan sebagai alat untuk propaganda kelompok tertentu.

8 strategi manipulasi media
1.       Pengganggu atau pengalihan isu
2.       Buat masalah kemudian tawarkan solusi atau manajemen konflik
3.       Strategi bertahap
4.       Strategi menunda
5.       Menghadapi public seperti anak kecil
6.       Pembodohan public
7.       Mempromosikan kebiasaan dan tren buruk di public
8.       Pembentukan kepribadian individu public
Contoh- contoh manipulasi media di Indonesia
a.       Banyak para pemilik TV menggunakan frekuensi public untuk kepentingan pribadi mereka.
b.      Kepemilikan media mulai dikuasai oleh para pengusaha setelah 1998 (reformasi)
membanjiri publik dengan tayangan dengan kepentingan yang jelas bukan merupakan urusan publik

   Haryatmoko. 2007. Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi. Yogyakarta: Kanisius.